Simak! Tionghoa di Pusaran Sumpah Pemuda

 

Ilustrasi. Suasana di Museum Sumpah Pemuda Jakarta. (Foto: CNN Indonesia/Fitri Chaeroni


Siapa Sie Kong Lian, SinPo,Yo Kim Tjan,Apa peran mereka dalam sejarah penting Indonesia

INFONUSANTARA.NET -- Janti Silman samar mengingat detail yang terjadi di rumah kakeknya sekitar 92 tahun silam. Padahal, rumah keluarga ini merupakan bagian penting sejarah Indonesia, mulai dari menjadi markas organisasi pergerakan pemuda masa-masa itu hingga tempat diputuskannya penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua pada Oktober 1928--yang kemudian dikenal menghasilkan Sumpah Pemuda.

Tapi maklum saja, usia Janti dan sang kakek, Sie Kong Lian memang terpaut jauh jaraknya.

Dan sayang, engkongnya keburu meninggal saat Janti berusia tujuh, sebelum sempat bercerita banyak tentang apa yang terjadi di rumah keluarga mereka saat zaman perjuangan kemerdekaan.

"Rumah itu dibeli oleh engkong saya, kakek saya pada 1908 untuk dijadikan tempat kos mahasiswa dari Stovia. Jenjang usia saya, dengan ayah dan kakek saya cukup besar. Kakek saya meninggal pada 1954 dan ayah saya juga sibuk, jadi tidak banyak bicara. Jadi memori saya mengenai Gedung Sumpah Pemuda tidak terlalu banyak," cerita Janti dalam webinar 'Nggosipin Tionghoa Yuk!', Senin (19/10).

"Kecuali satu, pesan yang mengingatkan kami; kita bukannya tidak butuh rumah tersebut, tapi rumah tersebut punya sejarah besar bagi bangsa Indonesia, dan juga kenangan tersendiri. Jadi wasiatnya, pesan ayah saya yang juga dipesankan oleh kakek saya; bila saatnya kalian diminta menghibahkan rumah tersebut pada negara, maka hibahkan," kata Janti lagi mengingat.

Rumah yang diceritakan Janti itu, puluhan tahun silam menjadi tempat indekos para pelajar Stovia--sekolah kedokteran kala itu. Kediaman Sie, selain jadi tempat tinggal dan belajar juga dijadikan 'markas' organisasi pergerakan pemuda pada medio 1927.

Pengunjung mengamati koleksi yang dipajang di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Kamis (26/10). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/kye/17.)

Beberapa mahasiswa yang pernah tinggal di antaranya Muhammad Yamin, Amir Sjarifoedin, Abu Hanifah, Ferdinand Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roesmali, Mohammad Tamzil, Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan, dan Katjasungkana.

Sie Kong Lian saat itu mafhum betul, memberi ruang bagi anak-anak muda mengembangkan gagasan persatuan bangsa dan kemerdekaan adalah hal bahaya jika diketahui Belanda. Tapi kakek Janti itu tak gentar.

Bangunan yang jadi saksi bisu perjalanan Indonesia tersebut kini bisa dijumpai di kawasan Jakarta Pusat. Jika jalan-jalan di sekitaran Kwitang menuju daerah Pasar Senen, Anda akan menemukan sebuah bangunan uzur, bergaya arsitektural kolonial. Plangnya mungkin tak begitu terlihat, tapi jika serius bisa terbaca: Museum Sumpah Pemuda.

Gedung Kramat Raya 106 itu menurut buku "Peranan Gedung Kramat Raya 106 dalam Melahirkan Sumpah Pemuda" punya peran penting dalam napak tilas sejarah Indonesia. Secara sepintas gedung itu seperti bangunan lama, jauh dari kesan megah dan menjulang. Luasnya pun tak seberapa.

Tapi dari dalam bangunan itu lah gagasan para pemuda berkembang. Diskusi mengenai pergerakan Indonesia bergolak.

"Di gedung ini para pemuda pendiri bangsa menuangkan pemikiran tentang persatuan pemuda, mereka berkumpul dan berdiskusi membahas permasalahan yang dialami rakyat Indonesia saat itu," petikan pernyataan dari buku tersebut dikutip dari laman resmi Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Nasional Junus Satrio saat berbicara pada diskusi daring 'Nggosipin Tionghoa Yuk!' mengutarakan, sudah sepantasnya rumah Sie Kong Lian disimak bukan sebatas kenangan belaka. Melainkan sebagai saksi dan bagian sejarah Bangsa Indonesia.

"Dan saya pikir tidak sepatutnya kita melupakan apa yang dicita-citakan Pak Sie. Karena itu sudah saatnya kita tidak hanya memperingati Sumpah Pemuda tapi bagaimana proses Sumpah Pemuda itu," tutur Junus.

Dari rumah Sie, pemuda dengan beragam latar merembuk kondisi bangsa dan merumuskan persatuan. Simpul-simpul gerakan itu menyala hingga kemudian di rumah ini pula Sumpah Pemuda pertama kali diikrarkan pada 28 Oktober 1928.

"Mereka ada yang menamakan Jong Sumatra, Jong Java, dan lain-lain, yang sebetulnya isinya macam-macam. Misalnya Jong Sumatra, tidak hanya orang Batak, tapi ada Melayunya, juga Tionghoa. Jong Java juga demikian. Dan semangat [persatuan] inilah yang kemudian menyatukan orang-orang ini berkumpul di rumah keluarga Sie. Dan di rumah keluaga Sie inilah mereka menyatakan, kita ingin mendirikan negara yang namanya Indonesia. Dan baru 1945 terjadi," ungkap Junus Satrio.

Sie Kong Lian bukan satu-satunya orang Tionghoa yang berperan di pusaran Sumpah pemuda. Beberapa orang yang juga disebut di antaranya Kwee Thiam Hong (Jong Sumatrenan Bond), Djohan Mohammad Tjai (Jong Islametan Bond), Oey Kay Siang, Liaw Tjon Hok, dan Tjio Djien Kwie yang tidak diketahui asal organisasinya.

SinPo, Majalah Pertama Memuat Lirik Lagu Indonesia Raya

Peran orang Tionghoa tidak sebatas pada rumah indekos milik Sie Kong Lian. Anda juga perlu mengenal SinPo, majalah Tionghoa yang mencetak dan menyebarluaskan lirik lagu serta partitur lagu kebangsaan Indonesia --judul awal Indonesia Raya-- dalam satu halaman lengkap.

Wage Rudolf Supratman atau W.R Supratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia [Raya] pertama kali melantunkan lagu dengan iringan biola, saat sumpah pemuda 28 Oktober 1928.

Agar dikenal luas, ia pun mengirimkan lirik dan partitur lagu Indonesia [Raya] ke beberapa surat kabar yang ada saat itu. Sayangnya, tawaran itu berbuah penolakan.

Salah satu koleksi yang dipajang di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Kamis (26/10). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Tak patah arang, ia lantas menawarkan lirik dan partitur lagu ke SinPo--media di mana ia menjadi koresponden aktif. Usai memperdengarkan lagu di hadapan Direktur SinPo, Ang Yan Goan, lirik dan partitur pun dijanjikan terbit di SinPo edisi mingguan. Surat kabar ini menjadi satu-satunya media massa yang saat itu mencetak partitur lagu berjudul Indonesia [Raya].

SinPo sendiri disebut-sebut memiliki peran penting dalam sejarah pergerakan nasional. Surat kabar yang berdiri pada 1910 ini didirikan orang-orang Tionghoa dalam perjalanannya menyuarakan nasionalisme Tiongkok. SinPo juga lantang menyuarakan gerakan bumi putera yang menyuarakan persatuan kebangsaan.

"Bagaimana publikasi lagu Indonesia [Raya] , itu partitur pertamanya dicetak oleh majalah SinPo pada 10 November 1928," ungkap Udaya Halim, Budayawan yang juga Founder Museum Benteng Heritage.

Peran Yo Kim Tjan dalam Merekam Lagu Indonesia Raya

Bukan saja perkara penyebarluasan lirik dan partitur lagu Indonesia [Raya]. Peran lain orang Tionghoa juga tercatat pada perekaman Lagu Indonesia [Raya].

Pada 1927, W.R Supratman meminta Yo Kim Tjan (Johan Kertajasa), pemilik orkestra 'Populair' untuk membantunya merekam lagu Indonesia [Raya]. Dalam orkestra ini, Supratman menjadi pemain biola.

Penawaran ke Yo Kim Tjan itu ia lakukan setelah sebelumnya ditolak oleh perusahaan rekaman Tio Tek Hong dan Odeon. Tapi sebagaimana penolakan sebelumnya, Supratman tak habis akal. Ia meminta bantuan Yo Kim Tjan untuk merekam lagu Indonesia [Raya] ke piringan hitam.

"Tio Tek Hong bilang 'oh nggak berani saya, nanti ditangkap Belanda' dan Odeon, perusahaan rekaman juga menolak. Setelahnya Supratman pergi ke Yo Kim Tjan dan memintanya merekam lagu tersebut," cerita Udaya.

Suasana di Museum Sumpah Pemuda Jakarta. (Foto: CNN Indonesia/Fitri Chaeroni)

Di rumah Yo Kim Tjan yang terletak di jalan Gunung Sahari No.37 Jakarta, Supratman dibantu oleh seorang teknisi Jerman untuk merekam dua versi dari lagu tersebut. Pertama versi asli di mana Supratman menyanyikannya sambil bermain biola, sementara kedua adalah versi keroncong--agar bisa diperdengarkan ke publik luas.

"Supratman memberikan advice pada Yo Kim Tjan supaya direkam versi keroncong supaya orang Indonesia tahu seperti apa musiknya," tutur Udaya.

Versi keroncong tersebut pun tersebar di kalangan pribumi. Mendengar kemunculan gerakan politik kala itu, pemerintah Belanda lantas menyita seluruh piringan hitam versi keroncong lagu Indonesia [Raya] tersebut.

Pada 1953, Yo Kim Tjan lantas mengirim surat ke Djawatan Radio Republik Indonesia (RRI) untuk memperbanyak piringan hitam lagu Indonesia [Raya] versi asli oleh W.R Supratman. Tapi surat permohonan ini ditolak oleh RRI dengan alasan, lagu Indonesia [Raya] telah menjadi lagu nasional dan berubah judul menjadi Indonesia Raya.

Kemudian 1957, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat itu atas nama Kusbini, meminta Yo Kim Tjan untuk menyerahkan master piringan hitam berisi lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan W.R Supratman. Dalam suratnya kepada Yo Kim Tjan, Kusbini menyebut piringan hitam tersebut akan digunakan untuk menyelesaikan perihal hak cipta.

"Jadi tahun 57 itu, master piringan hitamnya diminta untuk menyelesaikan hak cipta, tapi tahun 58 Yo Kim Tjan mendapat surat seolah-olah master piringan hitam itu diserahkan, dan sampai saat detik ini tidak ada satupun yang tahu di mana piringan hitam tersebut," tutur Udaya.

Selama bertahun-tahun setelahnya, Kartika--putri dari Yo Kim Tjan, menyimpan piringan hitam versi keroncong lagu tersebut. "Itu piringan hitam selalu saya bawa kemana pun, papi saya (Yo Kim Tjan) bilang ini mesti diselamatin, buat nanti Indonesia," ungkap Kartika dalam rekaman video saat wawancara dengan Udaya Halim 2014 silam.

Kartika mengembuskan napas terakhirnya pada 5 Nopember 2014. Piringan hitam berisi lagu Indonesia Raya versi keroncong kini disimpan di Museum Sumpah Pemuda.

Proses panjang hingga akhirnya melahirkan apa yang dikenal dengan "Sumpah Pemuda" kini, bukan jalan yang lempang. Para pemuda yang kemudian merumuskan ikrar; bertanah air satu, berbahasa satu, dan berbangsa satu, Indonesia, berasal dari beragam kelompok dan latar. Tak terkecuali, kelompok Tionghoa.

Kongres Pemuda II pun tak begitu saja muncul. Pertemuan ini didahului dengan Kongres Pemuda I yang digelar pada 30 April-2 Mei 1926 atau dua tahun berjarak.

Sumpah Pemuda disebut jadi tonggak pergerakan kemerdekaan Indonesia. Semangat kebangsaan ini salah satu yang mendasari perjuangan para pemuda untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Ikrar yang dibacakan pada 28 Oktober 1928 itu, 17 tahun kemudian, melahirkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.(mel/NMA)

Sumber: CNN Indonesia

[blogger]

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.