PILIHAN REDAKSI

Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir Melayat Kerumah Duka Zalmendra

  INFONUSANTARA.NET, Sijunjung--  Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir, SSTP, M.Si Sutan Gumilang melayat kerumah duka Zalmendra (47) di Siju...

Budaya

Opini

Mentawai

Padang Panjang

Peristiwa

Pariwara

Sijunjung

Internasional

 'Habis Gelap Terbitlah Terang' Menghargai Perjuangan Penyintas Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Tuesday, November 24, 2020

On Tuesday, November 24, 2020

 



Acara tahunan kedua 5 Desember 2020
Habis Gelap Terbitlah Terang Menghargai Perjuangan Penyintas Kekerasan dalam Rumah Tangga

Kita berkumpul bersama untuk membuat sejarah. Memperingati kematian Nelson Mandela pada 5 Desember 2013 lalu. Harapannya, apa yang kita lakukan ini, bisa menjadi katalisator perubahan.

Kali ini, acara yang digelar satu tahun sekali ini, mengangkat dan memberi penghargaan terhadap perjuangan para penyintas kekerasan dalam rumah tangga.

Selain itu, kita menyalakan kembali apa impian para pahlawan seperti Mandela, Sudirman and Kartini.

Hal itu sesuai tujuan Rahasia Mafiusa NPO:

Meningkatkan kesadaran tentang Seni dan Budaya Indonesia untuk membangun hubungan baru dengan sejarah leluhur. Serta sejarah bagi semua orang Afrika Selatan. 

Memastikan ikatan antara Indonesia dan Afrika Selatan.

Menggunakan puisi dan musik sebagai media untuk ekspresi diri dan penyembuhan.

Menggunakan bemacam kesenian sebagai alat pemersatu antara komunitas yang selama ini terpisah atau berjarak.

Abospitter (CPT)- Rapper Gracia Tobing (ID)- Penyair Na’am Grupo (ID)- NasyidTari Cewang (ID)- Tarian Prince Shapiro (USA)- Penyair Riyo (CPT)- Rapper LOR (JHB)- PenyairSuperWomen (CPT)- Cerita & motivasi Husnil Fajri (ID)- Qari PerempuanRochelle Coetzee (PTA)- Penyair Annette Muller (CPT)- Penyair Def Poets Ink (JHB)- PenyairBarkie Mckrea (CPT)- Pembicara Motivasi Tridhatu (ID)- Kolektif musik eksperimental.

Tahun ini komunitas yang berpartisipasi semakin bertambah. Termasuk dari Afrika Selatan, Indonesia, Malaysia, Jamaika, Amerika Serikat, Inggris dan masih banyak lagi!

Kita semua di seluruh dunia telah merasakan lockdown di masa pandemi ini. Waktunya untuk masuk ke dalam batin, lebih terhubung dengan Allah dan memperbanyka membantu mereka yang membutuhkan. 

Di dalam acara ini, kita gunakan untuk menginspirasi supaya tidak menyerah.Supaya terus berjuang untuk potensi yang lebih baik dalam diri kita dan komunitas kita.

Di dalam terang ada unsur kegelapan dan di kegelapan akan selalu ada cahaya, walaupun kecil. Kita merayakan semangat hidup Kartini dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Kita membagikan jalur untuk penyembuhan, serta berbagai perspekif untuk menciptakan rasa kebersamaan. 

Bergabunglah dengan 15 bintang tamu di Habis Gelap Terbitlah Terang,menampilkan puisi, tarian, music, rap, lagu, cerita, pembicara motivasi dan kesempatan Open Mic untuk membagikan ekspresi 

Anda. Hasilnya, akan digunakan untuk mengirimkan alat musik, kostum dan buku tentang Indonesia (warisan, Wali yang berasal dari Indonesia, seni tradisi) ke Afrika Selatan.

Kapan: 5 Desember 2020

Waktu: WIB 22:30/ WITA 23:30

Apa: 15 Bintang Tamu Nasional & Internasional & OPEN MIC

Dimana: Kota Cape Town & Aplikasi Zoom

Tiket: IDR 150k

 

Hubungi: +27820719414 rahasiamafiusanpo@gmail.com

Nina Alexia Brazzo, Ketua Rahasia Mafiusa NPOM

Menjematani kesenjangan antar komunitas

Dubes RI: Di Saudi Rizieq Sering Sebut Jokowi Presiden Ilegal
Friday, November 06, 2020

On Friday, November 06, 2020

 

Imam Besar FPI Rizieq Shihab disebut kerap mengatakan Presiden Joko Widodo adalah presiden ilegal saat di Arab Saudi. (CNN Indonesia/Safir Makki)

INFONUSANTARA.NET -- Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel mengungkapkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab kerap menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai presiden ilegal selama berada di Tanah Suci.

"MRS (Muhammad Rizieq Shihab) justru sering melancarkan kalimat tidak pantas dari kota suci Makkah dengan menyebut Presiden Jokowi adalah presiden ilegal," kata Agus kepada CNNIndonesia.com, Jumat (6/11).

Agus menyebut para koleganya pun menyayangkan ucapan yang dikeluarkan oleh pria yang menetap selama tiga tahun lebih di negara orang tersebut.

"Kami sering ditanya kolega-kolega Saudi yang menyayangkan bagaimana ada warga negara Indonesia menyebut kepala negaranya dengan sebutan 'rais ghair syar'iyyin', presiden illegal," ujarnya.

Menurut Agus, Rizieq terjerat sejumlah kasus, salah satunya masalah keimigrasian. Ia membantah jika KBRI Riyadh terkesan tak membantu Rizieq selama di Saudi.

Agus menyatakan kasus yang menjerat Rizieq tak masuk dalam prioritas KBRI Riyadh. Menurutnya, kasus yang menjadi prioritas pihaknya yakni kasus high profile case (HPC) atau kasus-kasus yang berkaitan dengan hukuman mati dan nyawa.

Contohnya, kata Agus, dalam beberapa bulan terakhir KBRI Riyadh sedang berfokus untuk mendampingi seorang WNI yang terancam hukuman mati karena peristiwa 12 tahun yang lalu

"Kasus yang menimpa MRS tidak masuk dalam prioritas KBRI Riyadh," ujarnya.

Selain tak masuk kategori prioritas, Agus menyebut bahwa selama ini Rizieq tak pernah mengadukan permasalahannya kepada pihak KBRI sejak kasus itu bergulir.

"Apalagi ke KBRI Riyadh yang jaraknya 1.000 km dari Makkah, ke KJRI Jeddah yang hanya 100 km dan cukup 45 menit saja tidak pernah melaporkan permasalahan yang dia hadapi," katanya.

Sekretaris Umum FPI Munarman mengatakan Agus hanya membuat gaduh di tengah kepulangan Rizieq. Menurutnya, Agus telah gagal menjalankan misi sehingga menyebarkan berita bohong.

"Malas saya melayani orang-orang itu, nyebar hoaks dan fitnah," ujarnya.

Sebelumnya, Rizieq membantah dirinya terbelit masalah izin tinggal yang kedaluwarsa atau overstay di Arab Saudi. Ia mengklaim selama ini pejabat Indonesia tak memahami aturan soal overstay di Arab Saudi.

Sementara, Menko Polhukam Mahfud MD menyebut bahwa Rizieq sempat terjerat kasus dugaan pengumpulan dana ilegal dan kegiatan-kegiatan politik di Arab Saudi hingga masalah keimigrasian.

Mahfud dan Agus menyebut Rizieq sendiri masuk dalam daftar deportasi. Otoritas Saudi disebut hanya memberikan izin Rizieq tinggal di sana 11 November. Rizieq pun memutuskan pulang dan diprediksi tiba 10 November.

Sumber: CNN Indonesia

Dubes RI Tegaskan Rizieq Pulang karena Masuk Daftar Deportasi
Friday, November 06, 2020

On Friday, November 06, 2020

 

Dubes RI untuk Saudi Agus Maftuh Abegebriel menyebut Rizieq Shihab masuk daftar deportasi. (Foto: Istimewa)

INFONUSANTARA NET -- Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel mengungkapkan bahwa pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab (MRS) pulang ke Indonesia setelah masuk daftar deportasi.

Sebelumnya, Rizieq mengklaim pulang ke tanah air setelah visanya diperpanjang oleh Arab Saudi dan usai permohonan izin keluar atau bayan safar darinya ditolak otoritas setempat.

Agus menjelaskan bahwa status Rizieq itu terdapat layar keempat dalam sistem komputer imigrasi Arab Saudi.

"Di layar ini juga tertulis dengan sangat jelas nama MRS masuk dalam 'tasjil murahhal', daftar orang dideportasi," ungkap dia, dalam keterangan tertulisnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (6/11).

"Saya berpesan untuk MRS: Tidak perlu malu dengan status di sistem komputer imigrasi Saudi ini," lanjut Agus.

Ia menyebut status deportasi itu juga dapat dilihat pada layar-layar sistem komputer imigrasi Saudi sebelumnya. Layar pertama, kata Agus, berisi informasi tentang pendatang (ma'lumat za'ir).

"Layar pertama sangat jelas sekali tidak ada perpanjangan visa, yang ada adalah perubahan batas akhir tinggal (intiha' al-iqamah) sampai dengan 11 November 2020," ujar dia.

"Sedangkan batas tanggal berlakunya visa (tarikh intiha' as-salahiyah) tetap tanggal 20 Juli 2018 (dalam dokumen tertulis, 25/09/1439 H)," sambungnya. 

Layar kedua, lanjut Agus, menampilkan menu utama Sijil al-Mukhalif atau daftar catatan pelanggar undang-undang keimigrasian. Identitas MRS, kata dia, tercatat di layar ini, mulai dari nama, jenis pelanggaran, nomor deportan, jenis dokumen, dan lainnya.

"Jelas sekali MRS di layar kedua ini dilabeli 'mukhalif' pelanggar undang-undang dan ini tidak akan hilang," cetusnya.

"Di layar kedua ini ada dua kolom yang sensitif dan berkategori aib sehingga kami tidak elok untuk membukanya ke publik. Saya masih menghargai MRS sebagai sesama santri," tutur Dubes.

Layar ketiga berisi data MRS yang bolak-balik keluar masuk Arab Saudi, meski tak sempat ke Indonesia.

Agus menuturkan pihaknya pun telah berkomunikasi dengan Kantor Imigrasi Kerajaan Arab Saudi pada Kamis (4/11). Dari komunikasi itu, pihaknya mendapat lima lembar dokumen keimigrasian yang berisi informasi tentang Rizieq.

"MRS, sesuai nama yang tertera dalam paspor bernomor B326????, visanya tidak diperpanjang oleh Pemerintah Arab Saudi dan hanya diberikan izin tinggal paling lambat sampai dengan 11 November 2020," kata dia, yang merupakan politikus PKB itu.

Dengan demikian, disampaikan Agus, Rizieq hanya mendapatkan waktu sembilan hari dari pemerintah Arab Saudi. Tenggat waktu itu terhitung sejak 2 November saat Rizieq datang ke Kantor Deportasi Syumaisi untuk mengurus admistrasi kepulangan.

"Arab Saudi hanya memberikan waktu sembilan hari sejak kedatangan MRS di Kantor Deportasi Syumaisi," ucap Agus.

Sebelum melewati batas waktu itu, Rizieq sendiri telah mengumumkan waktu kepulangannya ke Indonesia. Dia akan terbang dari Jeddah pada 9 November dengan Saudi Saudi Airlines nomor penerbangan SV 816 dan tiba di Tanah Air pada 10 November.

Pihak Rizieq sebelumnya berulangkali membantah overstay atau bermasalah dalam hal keimigrasian di Saudi.

Sumber:CNN Indonesia

Konflik Karikatur Nabi! Tidak Berarti Perancis Anti Muslim,Ini Pernyataan Terbaru Emmanuel Macron
Monday, November 02, 2020

On Monday, November 02, 2020

Presiden Prancis, Emmanuel Macron.(ist)

INFONUSANTARA.NET - Akibat pernyataannya yang menghubung-hubungkan Islam dengan tindakan terorisme atau ekstremisme, Presiden Prancis Emmanuel Macron panen kecaman.

Terkait hal itu, Macron pun menyampaikan pernyataan terbaru, Sabtu (31/10), dengan mengatakan bahwa ia menghormati para Muslim yang dikejutkan oleh kartun Nabi Muhammad SAW.

Namun, kata Macron, itu bukan alasan untuk melakukan kekerasan.

Dalam upaya untuk memperbaiki apa yang ia katakan sebagai kesalahpahaman tentang niat Prancis di dunia Muslim, Macron memberi kesempatan wawancara kepada jaringan televisi Arab Al Jazeera. Wawancara itu disiarkan pada Sabtu.

Selama wawancara, Macron mengatakan Prancis tidak akan mundur dalam menghadapi kekerasan dan ia akan membela hak kebebasan berekspresi, termasuk penerbitan kartun.

Namun, presiden Prancis itu menekankan bahwa tidak berarti dirinya atau para pejabatnya mendukung kartun-kartun itu –yang oleh Muslim dianggap menghujat, juga tidak berarti bahwa Prancis anti-Muslim.

“Jadi saya memahami dan menghormati bahwa orang-orang terkejut dengan kartun ini, tetapi saya tidak akan pernah menerima bahwa seseorang dapat membenarkan kekerasan fisik karena kartun ini, dan saya akan selalu membela kebebasan di negara saya untuk menulis, berpikir, menggambar,” kata Macron, menurut transkrip wawancara yang dirilis oleh kantornya.

“Peran saya adalah menenangkan segalanya, itulah yang saya lakukan, tetapi pada saat yang sama, melindungi hak-hak ini.”

Seorang penyerang yang meneriakkan “Allahu Akbar” memenggal seorang perempuan dan membunuh dua orang lainnya di sebuah gereja di Nice pada Kamis (29/10).

Peristiwa itu merupakan serangan pisau berujung maut kedua di Prancis dalam dua minggu.

Tersangka penyerang, berusia 21 tahun dari Tunisia, ditembak oleh polisi dan sekarang berada dalam kondisi kritis di rumah sakit.

Polisi pada Sabtu menyebutkan bahwa satu orang lagi ditahan sehubungan dengan serangan itu.

Orang tersebut menambah tiga lainnya yang sudah ditahan karena dicurigai melakukan kontak dengan penyerang.

Macron telah mengerahkan ribuan tentara untuk melindungi berbagai lokasi, seperti tempat ibadah dan sekolah.

Sementara itu, para menteri telah memperingatkan bahwa serangan militan lainnya bisa terjadi.

Serangan Nice, pada hari Muslim merayakan peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, terjadi di tengah kemarahan yang meningkat di kalangan Muslim di seluruh dunia atas pembelaan Prancis pada hak untuk menerbitkan kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad.

Pada 16 Oktober, Samuel Paty, seorang guru sekolah di daerah pinggiran Kota Paris, dipenggal kepalanya oleh seorang remaja keturunan Chechnya.

Warga berusia 18 tahun itu tampaknya marah terhadap guru tersebut, yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas selama pelajaran kewarganegaraan.

Di beberapa negara mayoritas berpenduduk Muslim, para pengunjuk rasa mengecam Prancis dalam aksi unjuk rasa di jalanan. Beberapa negara juga menyerukan pemboikotan terhadap produk-produk Prancis.

Prancis, yang gelisah mengantisipasi kemungkinan serangan lainnya, tersentak pada Sabtu malam ketika seorang imam Ortodoks Yunani ditembak dan terluka di gerejanya di kota Lyon di Prancis tenggara.

Namun, para pejabat tidak memberikan indikasi dugaan terorisme pada serangan di gereja Lyon itu. (JPNN)


Aksi Teror di Gereja Kota Nice, Polisi Prancis Tangkap 2 Orang Lagi
Sunday, November 01, 2020

On Sunday, November 01, 2020

Sebuah spanduk hitam terlihat di logo "I Love Nice", sebagai penghormatan bagi para korban serangan maut dengan senjata tajam, di Nice, Prancis, Sabtu (31/10/2020). (REUTERS/Eric Gaillard/foc/cfo)

Kepolisian masih berusaha mencari tersangka lainnya, mengingat penyelidik masih mencari orang-orang yang terakhir dihubungi oleh pelaku teror.

INFONUSANTARA.NET Dua pria lagi ditahan oleh aparat keamanan di Prancis, sehingga total tersangka yang ditangkap oleh kepolisian terkait dengan aksi teror di Nice jadi enam orang. Hal itu diungkapkan oleh seorang polisi setempat yang enggan menyebutkan namanya.

Kepolisian masih berusaha mencari tersangka lainnya, mengingat penyelidik masih mencari orang-orang yang terakhir dihubungi oleh pelaku teror.

Dua tersangka baru itu ditangkap pada Sabtu (31/10), kata sumber yang sama.

Kepolisian menangkap dua pria yang berasal dari Kota Grasse, dekat wilayah pesisir selatan Prancis yang tidak jauh dari Nice, demikian laporan saluran televisi BFM TV.

Seorang penyerang sambil meneriakkan Allahu Akbar memenggal kepala seorang perempuan dan membunuh dua orang lainnya dalam sebuah gereja di Nice, Kamis (29/10). Insiden itu merupakan aksi teror mematikan kedua dalam dua minggu terakhir, yang kemungkinan didorong oleh paham garis keras.

Pelaku penyerangan, seseorang yang berasal dari Tunisia dan berusia 21 tahun, ditembak oleh polisi dan saat ini masih dalam kondisi kritis di rumah sakit.

Kepala jaksa untuk anti terorisme Prancis mengatakan pria yang diduga sebagai penyerang di Nice itu tiba di Lampedusa, sebuah pulau di Italia yang berbatasan dengan Tunisia, pada 20 September.

Sejumlah penyelidik di Italia juga membantu investigasi aparat penegak hukum di Prancis, khususnya terkait kegiatan tersangka dan orang-orang yang ia hubungi di Pulau Sisilia.

Para penyelidik meyakini bahwa tersangka sempat tingggal di Sisilia setelah menyeberang dari Lampedusa ke Bari pada awal Oktober dengan menggunakan sebuah kapal yang biasanya dipakai untuk mengarantina para pengungsi, kata beberapa sumber dari aparat.

Tersangka juga diyakini mendapat surat peringatan untuk keluar dari Italia dalam waktu seminggu, kata sumber yang sama.

Para penyelidik masih mencari kemungkinan bahwa tersangka sempat tinggal di Kota Alcamo, Sisilia, selama 10 hari, kata beberapa narasumber. Antara

Sumber: Suara.com


Serangan di Gereja Ortodoks Prancis, Satu Pendeta Ditembak
Sunday, November 01, 2020

On Sunday, November 01, 2020

 

Seorang tentara berjaga di lokasi penembakan, gereja ortodoks Kota Lyon, Prancis, 31 Oktober 2020. AFP /Filippe Desmazes

Pihak berwenang Prancis telah menangkap seorang pria terduga pelaku

INFONUSANTARA.NET - Pria bersenjata menyerang sebuah gereja ortodoks di Kota Lyon, Prancis pada Sabtu (1/11/2020), menembaki seorang pendeta.

Menyadur BBC, pendeta yang diidentifikasi sebagai Nikolas Kakavelakis, terluka parah usai ditembak dua kali di bagian perut.

Pihak berwenang belum mengetahui secara pasti motif penyerangan, penyelidikan percobaan pembunuhan telah dilancarkan.

Penembakan terjadi sekitar pukul 16.00 sore, saat pendeta itu tengah menutup gereja.

Penyerang, yang disebutkan menenteng senapan laras pendek, langsung kabur dari lokasi usai melancarkan tembakan.

Jaksa penuntut umum Lyon, Nicolas Jacquet, pada Sabtu malam mengatakan pihak berwenang telah menahan seorang pria terduga pelaku.

"Seseorang yang berkemungkinan sesuai dengan gambaran saksi awal telah ditempatkankan di tahanan polisi," ujar Jacquet.

Jacquet menyebut pria itu tak membawa senjata ketika ditangkap oleh pihak kepolisian. Penyelidik masih mencari tahu identitasnya.

Wali kota Lyon Gregory Doucet sebelumnya mengatakan pihaknya belum mengetahui motif penyerangan gereja ini.

Sang pendeta yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit, disebutkan masih dalam kondisi kritis.

Perdana Menteri Prancis Jean Castex mengatakan pemerintah bertekad untuk mengizinkan "setiap dan semua orang menjalankan ibadah mereka dalam keamanan dan kebebasan penuh.

Penembakan di gereja Ortodoks Lyon ini terjadi tiga hari setelah serangan di Basilika Notre-Dame yang menewaskan tiga orang, dengan satu perempuan terpenggal, dan dua pekan setelah pembunuhan Samuel Paty, guru sejarah yang dipenggal karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelasnya.

Sumber:Suara.com

Waduh!! Anggota DPD RI ke Pelajar:Seks Bebas Boleh Asal Pakai Kondom
Friday, October 30, 2020

On Friday, October 30, 2020

Anggota DPD RI asal Bali, Arya Wedakarna. [Beritabali]

Yang bersangkutan (Arya Wedakarna) telah membuat pernyataan di depan siswa-siswi di SMAN 2 Tabanan, bahwa seks bebas diperbolehkan asalkan pakai kondom," kata dia.

INFONUSANTARA.NET -- Anggota DPD RI asal Bali, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna alias AWK, dilaporkan Perguruan Sandhi Murti ke Polda Bali.

Dia dilaporkan ke polisi atas dua kasus, yakni dugaan penodaan dan pernyataan 'seks bebas diperbolehkan asalkan pakai kondom'.

Dikutip dari Suarabali.id, Pinisepuh Perguruan Sandhi Murti, I Gusti Ngurah Harta bersama seorang warga Nusa Penida mendatangi Polda Bali untuk melaporkan AWK.

Ia mengatakan, anggota DPD RI tersebut telah melontarkan ucapan bernada melecehkan terkait simbol agama Hindu.

"Beberapa minggu lalu yang bersangkutan (Arya Wedakarna) telah mengeluarkan pernyataan yang diduga melecehkan simbol-simbol yang dipuja masyarakat Bali yang intinya diduga merendahkan Ida Bhatara Dalem Ped Nusa Penida," ujarnya saat ditemui di Polda Bali, Jumat (30/10/2020).

Selain itu, pernyataan AWK terkait seks bebas asal pakai kondom juga dipersoalkan masyarakat.

"Sekitar bulan Januari tahun 2020 lalu, yang bersangkutan (Arya Wedakarna) telah membuat pernyataan di depan siswa-siswi di SMAN 2 Tabanan, bahwa seks bebas diperbolehkan asalkan pakai kondom," kata dia.

Dia melanjutkan, "AWK ini juga bilang yang lahir dari ibu hamil sebelum nikah akan jadi anggota ormas, jadi anak bebinjat, anak yang lahir dari neraka dan jadi orang korupsi."

Kuasa hukum Harta, I Nengah Yasa Adi Susanto, mengatakan, untuk barang bukti yang akan diserahkan ke kantor polisi, berupa rekaman video pelecehan simbol agama dan rekaman saat Arya Wedakarna berpidato di SMA Negeri 2 Tabanan.

"Saya kira ini pokok kesalahannya adalah diunggahnya melalui medsos menyangkut hal-hal yang sangat menganggu perasaan masyarakat khususnya masyarakat Nusa Penida tentang ungkapan-ungkapan yang tidak sepantasnya disampaikan lewat media," ucap Susanto.

Sementara itu, saat dikonfirmasi terpisah, Kepala Subdit V Kejahatan Siber Dit Reskrimsus Polda Bali, AKBP Gusti Ayu Putu Suinaci, mengatakan, akan memproses laporan tersebut sesuai dengan prosedur dan SOP yang ada.

"Untuk prosesnya kalau memang ada laporan kita pasti proses sesuai dengan prosedur yang ada. Kalau ada memenuhi unsur pidana yang dilaporkan ya kita sesuaikan dengan prosedur dan SOP yang ada," ucapnya.

Suinaci menambahkan semuanya melalui proses analisa terlebih dulu, kalau sudah dipelajari dan ada unsur-unsur, maka akan diproses lebih lanjut.

"Saya belum lihat laporannya seperti apa. Nanti laporan tersebut akan masuk ke pimpinan dulu, baru ke masing-masing subdit," sambung Suinaci.

Sumber: Suara.com

Ini Keputusan Terbaru Presiden Prancis, Demi Mencegah Hal Mengerikan
Friday, October 30, 2020

On Friday, October 30, 2020

 

Presiden Prancis, Emmanuel Macron. (Foto: Francois Mori/Pool via Reuters)

INFONUSANTARA.NET -- Eropa terancam dilanda gelombang besar kedua penularan COVID-19 sebelum musim dingin. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, memutuskan memberlakukan lagi karantina wilayah (lockdown) di negara mereka.

“Saya telah memutuskan bahwa kita (Prancis, red) perlu kembali ke penguncian untuk menghentikan virus,” kata Presiden Macron.

“Virus itu beredar dengan kecepatan yang bahkan tidak diantisipasi oleh perkiraan yang paling pesimistis,” ujarnya dalam pidato yang disiarkan televisi, Rabu (28/10/2020).

“Seperti semua tetangga kita (Prancis, red), kita tenggelam oleh percepatan virus yang tiba-tiba,” ia menambahkan.

“Kita (Prancis, red) semua berada di posisi yang sama: dibanjiri gelombang kedua yang kita tahu akan lebih sulit, lebih mematikan daripada gelombang pertama,” kata Macron.

Di bawah aturan baru Prancis yang mulai berlaku pada Jumat (29/10), warga diwajibkan tinggal di rumah.

Pengecualian akan diberikan bagi mereka yang perlu membeli barang-barang penting, mendapatkan layanan medis, atau berolahraga hingga satu jam sehari.

Warga akan diizinkan pergi bekerja jika majikan mereka menganggap pekerjaan tidak bisa dilakukan dari rumah.

Sekolah-sekolah di Prancis akan tetap buka.

Seperti pada hari-hari paling kelabu selama musim semi, siapa pun di negara itu yang meninggalkan rumah harus membawa dokumen, yang menguatkan alasan seseorang untuk berada di luar rumah.

Sementara, Jerman akan menutup semua bar, restoran, dan teater pada 2-30 November berdasarkan langkah-langkah yang disepakati antara Kanselir Jerman Angela Merkel dan para kepala pemerintah daerah.

Sekolah-sekolah akan tetap buka, dan toko-toko akan diizinkan beroperasi dengan batasan ketat pada jumlah orang yang berada di dalam toko.

Kita perlu mengambil tindakan sekarang,” kata Kanselir Jerman Angela Merkel. “Sistem kesehatan kita masih dapat mengatasi tantangan itu hari ini, tetapi pada kecepatan infeksi ini sistem akan mencapai batas kemampuannya dalam beberapa minggu,” ujar kanselir.

Menteri Keuangan Jerman Olaf Scholz menulis di Twitter, “November akan menjadi bukti. Peningkatan jumlah infeksi memaksa kita untuk mengambil tindakan pencegahan yang keras untuk mematahkan gelombang kedua.”

Prancis setiap hari telah dilanda lonjakan sebanyak 36.000 kasus baru COVID-19.

Jerman, yang tidak terlalu terpukul dibandingkan sejumlah negara tetangganya di Eropa awal tahun ini, mengalami peningkatan kasus secara berlipat. “Kalau kita (Jerman, red) menunggu sampai unit perawatan intensif penuh, itu akan terlambat,” kata Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn.

Jerman sudah mulai menerima pasien-pasien dari Belanda, negara tetangga yang kapasitas rumah sakitnya sudah mencapai batas. Wakil Perdana Menteri Rusia Tatiana Golikova mengatakan pada Rabu bahwa ketersediaan ranjang-ranjang rumah sakit sudah terisi 90 persen di 16 wilayah negara itu.

Beberapa pejabat telah memperingatkan bahwa bahkan sistem kesehatan yang dilengkapi dengan baik, seperti yang ada di Prancis dan Swiss, dapat mencapai titik puncak dalam beberapa hari.

Sementara itu, harapan bahwa pengobatan baru dapat mengekang penyebaran virus corona terhambat ketika kepala satuan tugas pengadaan vaksin Inggris mengatakan bahwa vaksin yang sepenuhnya efektif mungkin tidak akan pernah dikembangkan dan versi-versi awal kemungkinan besar tidak sempurna.

Menurut angka terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia pada Selasa (27/10), Eropa melaporkan 1,3 juta kasus baru dalam tujuh hari terakhir. Jumlah tersebut hampir setengah dari sekitar 2,9 juta yang dilaporkan di seluruh dunia.

Eropa dalam sepekan terakhir mencatat lebih dari 11.700 kematian, yang merupakan lonjakan sebesar 37 persen dari minggu sebelumnya. Sejauh ini di seluruh dunia, kasus COVID-19 tercatat lebih dari 42 juta dan sedikitnya 1,1 juta orang meninggal akibat penyakit virus tersebut, yang pertama kali dilaporkan muncul di Kota Wuhan, China, pada akhir tahun lalu.

Pemerintah di seluruh Eropa telah mendapat kecaman karena kurangnya koordinasi dan dianggap gagal menggunakan jeda kasus selama musim panas untuk meningkatkan penanganan, sehingga membuat rumah-rumah sakit tidak siap.

Di Amerika Serikat, gelombang baru infeksi telah mencatat serangkaian rekor, enam hari menjelang pemilihan presiden.

Presiden Donald Trump telah meremehkan virus corona dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan membatalkan kampanye. Para pendukungnya sering menolak menggunakan masker atau menjaga jarak yang aman saat menghadiri kampanye. 

Sumber:JPNN

Konflik di Prancis, Denny Siregar: Kalian Juga Suka Ngejek Agama Lain
Friday, October 30, 2020

On Friday, October 30, 2020

 

Denny Siregar.(ist)
INFONUSANTARA.NET -- Aktivis media sosial, Denny Siregar mengatakan, seandainya ummat Islam di Indonesia dikenal sebagai umat yang menghormati ajaran dan keyakinan orang lain, maka pastinya ketika agama kita dihina, maka mereka juga akan ikut membela kita.

Tetapi Denny bilang, mereka tidak membela kita, sebab ajaran mereka selalu dihina. “Tapi bagaimana mereka bisa membela ajaran kita, kalau kita selalu menghina ajaran mereka,” Ujar Denny Siregar dikutip akun twitternya, Kamis (29/10) seperti dilansir dari Fajar.co.id

Denny Siregar mengatakan hal itu, terkait sejumlah kecaman yang datang kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron karena dinilai telah menyudutkan Islam dan membiarkan Karikatur Nabi Muhammad SAW sebagai kebebasan berekspresi.

Denny Siregar bilang, ummat Islam selalu menghina sesembahan dari agama lain, padahal dalam Alquran surat Al An’am 108, Allah Ta’ala melarang menghina sesembahan dari agama lain.

“Saya bukan membela pemenggalan guru di Perancis. Cuman aneh aja. Kalian selama ini ngejek Yesus pakai kolor. Terus ngejek Yesus di gantungan. Kalian ejek mereka terus seolah-olah kalian paling benar. Sekalinya balik diejek, main penggal. Kalo ga mau diejek, jangan suka ngejek.” Ucap Denny Siregar.

Dia bilang, setiap dia diundang di Gereja, dia sangat dihormati meskipun berbeda agama.

“Karena gua menghormati agama mereka. Apa yang susah dengan itu? Bahkan Alquran pun sudah mengingatkan dengan tegas.” Pungkas Denny Siregar. 


Luar Biasa! Pemuda Rusia Turut Semarakkan Sumpah Pemuda di KBRI Moskow
Thursday, October 29, 2020

On Thursday, October 29, 2020

Ilustrasi warga negara Rusia (KBRI Moskow)

INFONUSANTARA.NET -- Pemuda di Rusia turut memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan mengikuti lomba menulis dan berpidato menggunakan Bahasa Indonesia. Acara dihelat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Rusia di Moskow.

Lomba pidato dilakukan secara virtual. Diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Rusia, yaitu Moscow State Institute of International Relations (MGIMO), Institute of Asian and African Studies of the Lomonosov Moscow State University (ISAA-MGU).

Kemudian, Diplomatic Academy of the Ministry of Foreign Affairs of the Russian Federation, St. Petersburg State University, dan Kazan Federal University. Di sejumlah perguruan tinggi tersebut diajarkan Bahasa Indonesia.

Salah satu peserta lomba pidato, Anastasia Sycheva menyampaikan tentang peran penting hubungan Indonesia dengan Rusia sejauh ini. Terutama mengenai peningkatan kerja sama bidang budaya dan pendidikan.

Anastasia sendiri merupakan mahasiswi semester 4 yang mendalami Bahasa Indonesia di kampusnya.

"Kerja sama di bidang budaya dan pendidikan dapat menarik perhatian dan motivasi lebih banyak orang Indonesia dan Rusia dari berbagai lapisan masyarakat kedua negara untuk memperkuat kerja sama bilateral lainnya," kata Anastasia mengutip Antara, Rabu (28/10).

Ada pula kelompok pemuda Rusia lainnya yang memberikan pesan dan kesan terkait Hari Sumpah Pemuda. Mereka memakai batik dengan motif khas Indonesia.

Di sela-sela latihan gamelan di KBRI Moskow, mereka menyampaikan Selamat Hari Sumpah Pemuda kepada Indonesia.

Anggota Gamelan Dadali di KBRI Moskow, Alesandra mengaku senang mempelajari Bahasa Indonesia karena dapat memahami budaya setempat.

Aleksandra adalah mahasiswi semeter empat di Institute of Oriental Studies.

Wakil Duta Besar RI untuk Rusia merangkap Belarus, Azis Nurwahyudi mengatakan bahwa peran pemuda sangat penting dalam hubungan Indonesia dan Rusia.

Dia menyampaikan perhatian generasi muda Rusia terhadap Indonesia begitu besar. Tidak sedikit pemuda Rusia yang ingin mengetahui banyak tentang Indonesia.

"Salah satu contohnya adalah keikutsertaan para pemuda Rusia pada lomba pidato dan menulis Bahasa Indonesia. Selain itu, para pemuda Rusia juga datang ke KBRI Moskow untuk belajar Bahasa Indonesia, gamelan, dan tarian Indonesia," kata Azis Nurwahyudi.

Sumber:CNN Indonesia

Demo Menolak UU Ciptaker Terbangkan Spanduk Pakai Balon, Isinya: Jokowi-Amin Gagal
Wednesday, October 28, 2020

On Wednesday, October 28, 2020

 

HIMA Persis menggelar demonstrasi menolak UU Ciptaker di area Patung Kuda, Jakarta Pusat, Rabu (28/10). Foto: Aristo Setiawan/JPNN.com

INFONUSANTARA.NETPuluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (HIMA Persis), menggelar demonstrasi menolak UU Cipta Kerja (Ciptaker) di area Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, Rabu (28/10).

Dalam aksinya, mahasiswa membawa balon udara yang di bawahnya tergantungkan sebuah spanduk.

Dalam spanduk tersebut, HIMA Persis menilai pemerintahan era Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin gagal selama memimpin Indonesia.

“Jokowi-Amin gagal,” tulis spanduk yang dikaitkan di balon udara yang dibawa HIMA Persis saat aksi.

HIMA Persis juga turut membawa spanduk yang berisikan tujuh tuntunan kepada pemerintah Jokowi-Maruf.

Dalam sebuah poin, organisasi tersebut meminta Jokowi mengaluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) yang bisa membatalkan UU Ciptaker.

“Keluarkan Perppu, cabut Omnibus Law (UU Ciptaker),” tulis tuntutan aksi HIMA Persis.

Dalam poin tuntutan berikutnya, HIMA Persis meminta Presiden Jokowi bisa menegakkan hukum dan tuntaskan kasus Hak Asasi Manusia (HAM).

Poin berikutnya, HIMA Persis meminta Presiden Jokowi bisa menyetop oligarki politik, menghentikan kapitalisasi sumber daya alam di Indonesia, dan menyelesaikan tindakan represif aparat.

Selain itu, HIMA Persis juga menuntut Presiden Jokowi menghapuskan kapitalisasi pendidikan dan mendesak pemerintah fokus menangani Covid-19.

“Kondisi buruh yang tertindas dan ekonomi yang sulit ialah buntut kerja pimpinan yang zalim dan gagal memimpin bangsa,” tegas seorang orator HIMA Persis di lokasi aksi. (jpnn/fajar)

Sumber: Fajar.co.id


Pemimpin Muslim Ramai-ramai Kecam Macron, Erdogan: Jangan Pernah Menghargai Label Prancis
Wednesday, October 28, 2020

On Wednesday, October 28, 2020

Erdogan & Macron. (int)

INFONUSANTARA.NET -- Presiden Prancis Emmanuel Macron baru-baru ini telah memicu kemarahan dan kecaman dari negara-negara Muslim dunia atas komentarnya yang membela sekularisme Prancis dan kritik terhadap Islam radikal, menyusul pemenggalan seorang guru di Prancis.

Bukan hanya kecaman yang didapat. Aksi boikot produk-produk Prancis pun sangat masif dilakukan di sejumlah negara Arab. Barang-barang buatan Prancis sudah banyak yang ditarik dari supermarket setempat. Hal itu merupakan buntut dari kemarahan publik Muslim dunia terhadap Presiden Macron.

Kecaman yang cukup tajam terhadap Macron datang dari Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Setelah mengatakan, bahwa Macron perlu diperiksa kejiwaannya terkait komentar tersebut, ia mengajak untuk memboikot produk-produk Prancis.

“Jangan pernah menghargai barang-barang berlabel Prancis, jangan membelinya,” kata Erdogan mengutip AFP, Selasa (27/10).

Ajakan memboikot produk-produk Prancis juga menggema di Qatar, Kuwait serta beberapa negara Timur Tengah lainnya. Barang-barang buatan Prancis sudah banyak yang ditarik dari supermarket setempat.

Bahkan, warga Suriah sudah membakar foto Macron. Di Tripoli, Libya, warga membakar bendera Prancis sebagai sikap kecaman atas pernyataan Macron.

“Sebagai Muslim, adalah kewajiban kami untuk menghormati semua nabi, jadi kami mengharapkan hal yang sama dari semua agama lain,” kata ibu rumah tangga Fatima Mahmud (56) di Tripoli.

Di Deir al-Balah di Jalur Gaza, orang-orang Palestina juga membakar potret Macron, menyebut pernyataannya sebagai “serangan dan penghinaan terhadap Islam.”

“Kami mengutuk komentar Presiden Prancis dan siapa pun yang menyinggung Nabi Muhammad, baik melalui kata-kata, tindakan, gerak tubuh atau gambar,” kata Maher al-Huli, seorang pemimpin Hamas yang menguasai Gaza.

Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, menuduh Macron, “menyerang Islam” karena pernyataannya dianggap menyudutkan dan mengkritik masyarakat Islam dengan cara menutup masjid dan mengawasi sejumlah organisasi masyarakat Muslim, usai kejadian pembunuhan seorang guru.

Khan juga menuduh Macron membela penerbitan ulang kartun Nabi Muhammad S.A.W., oleh majalah Charlie Hebdo.

Dalam serangkaian cuitan di Twitter pada Minggu (25/10) kemarin, Khan mengatakan bahwa pernyataan Macron yang menyebut “Islam adalah agama yang sedang dalam krisis di seluruh dunia” menimbulkan perpecahan.

“Ini adalah saat di mana Presiden Macron bisa memberikan sentuhan penyembuhan dan menyangkal ruang bagi para ekstremis daripada menciptakan polarisasi dan marginalisasi lebih lanjut yang pasti mengarah pada radikalisasi,” cuit Khan seperti dikutip dari AFP.

“Sangat disayangkan bahwa dia memilih untuk mendorong Islamofobia dengan menyerang Islam daripada teroris yang melakukan kekerasan, baik itu Muslim, Supremasi Kulit Putih, atau ideologi Nazi,” tambahnya.

Kementerian Luar Negeri Maroko dalam sebuah pernyataan yang disiarkan kantor berita resmi MAP, juga “dengan keras” mengutuk terus terbitnya karikatur Nabi Muhammad.

Adapun Menteri Urusan Islam Yordania Mohammed al-Khalayleh mengatakan bahwa “menghina” Nabi bukanlah “masalah kebebasan pribadi, tetapi kejahatan yang mendorong kekerasan.”

Liga Muslim Dunia (MWL) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) turut mengecam sikap Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan pemerintahannya yang dinilai menyudutkan umat Muslim dan membiarkan penerbitan ulang karikatur Nabi Muhammad S.A.W., oleh majalah satire Charlie Hebdo.

“Sekretariat Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) terus mengikuti penerbitan karikatur satire yang menggambarkan Nabi Muhammad S.A.W., dan kami tercengang melihat wacana yang tak terduga dari politisi Prancis tertentu, yang dianggap berbahaya bagi hubungan Muslim-Prancis, menghasut kebencian, dan hanya melayani kepentingan politik kelompok partisan,” demikian pernyataan OKI.

“Sekretariat Jenderal mengatakan akan tetap mengecam praktik penistaan dan penghinaan terhadap nabi-nabi Islam, Kristen dan Yahudi,” lanjut pernyataan OKI.

Kerajaan Arab Saudi juga mengecam penerbitan ulang karikatur Nabi Muhammad S.A.W., oleh majalah satir Prancis, Charlie Hebdo.

Menurut kantor berita Arab Saudi, SPA, yang dikutip Arab News, Selasa (27/10), pihak kerajaan juga mengutuk tindakan teroris dalam bentuk apa pun, terlepas dari pelakunya.

Selain itu Kerajaan Arab Saudi meminta supaya penerapan kebebasan intelektual dan budaya untuk mempromosikan rasa hormat, toleransi, serta perdamaian.

Pemerintah Indonesia turut pula mengecam pernyataan yang disampaikan oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang dinilai menyudutkan agama Islam dan membiarkan penerbitan ulang karikatur Nabi Muhammad S.A.W., oleh majalah satire Charlie Hebdo.

Rencananya, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) akan memanggil Duta Besar Prancis di Jakarta, Olivier Chambard, untuk menyampaikan kecaman itu.

Kecaman terbaru ini menambah daftar panjang beberapa negara berpenduduk mayoritas Islam lain yang telah lebih dulu mengecam pernyataan Macron.

Dapat disampaikan, bahwa ketika berbicara setelah guru Samuel Paty dipenggal usai menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada murid-muridnya dalam pelajaran tentang kebebasan berbicara awal bulan ini, Macron bersumpah bahwa Prancis “tidak akan menyerah” soal kartun Nabi dan mengatakan Paty “dibunuh karena Islamis menginginkan masa depan kita”.

Macron juga menyatakan, tetap mempertahankan prinsip sekuler yang diterapkan Prancis. Pemerintahannya akan tetap melanjutkan dan menghormati segala perbedaan di dalam perdamaian.

Dia menyatakan tidak akan membiarkan ujaran kebencian dan tetap mempertahankan budaya debat untuk mempertahankan pendapat.

“Sejarah kami memperlihatkan perjuangan terhadap tirani dan fanatisme. Kami akan melanjutkannya. Kami akan tetap melanjutkan, akan tetap membela harga diri manusia dan nilai-nilai universal,” ujar Macron. 

Sumber: Fajar.co.id

Emmanuel Macron Hina Islam, Paul Pogba Putuskan Hengkang dari Timnas Prancis
Tuesday, October 27, 2020

On Tuesday, October 27, 2020

 

Paul Pogba.(ist)
INFONUSANTARA.NETBanyak yang sakit hati mendengar agamanya, Islam, dihina dan dicap sebagai teroris oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron. Tak terkecuali gelandang bintang Prancis, Paul Pogba.

Dia dilaporkan keluar dari tim sepak bola nasional Prancis atas omongan Emmanuel Macron itu. Komentar Macron sendiri muncul setelah peristiwa pemenggalan guru sekolah-Samuel Paty -terkait karikatur nabi Muhammad kepada anak-anak muridnya di sekolah.

Menurut laporan yang dikutp FIN dari The Sun, Senin (26/10), pesepakbola berusia 27 tahun itu memutuskan untuk mundur dari tim nasional Prancis setelah kemarahan yang meluas atas pernyataan Macron terhadap Islam.

Namun demikian, baik Pogba maupun Asosiasi Sepak Bola Prancis, sejuah ini belum mengonfirmasi kepergian sang bintang.

Menurut laporan, Pogba sebagai penganut Islam, dia marah dengan kartun Nabi Muhammad yang pertama kali diterbitkan oleh Charlie Hebdo.

Selain itu, Keputusan pemerintah Prancis untuk menghormati Samuel Paty- sang guru yang tewas itu, juga memicu kemarahan Pogba.

Karir Pogba di Timnas Prancis dimulai pada 2013. Dia termasuk pemain kunci dalam kemenangan Prancis di Piala Dunia 2018 di Rusia bahkan mencetak gol di final melawan Kroasia.

Samuel Paty, dipenggal pada 16 Oktober setelah mendiskusikan karikatur Nabi Muhamad dengan murid-muridnya. Dia dipenggal oleh seorang pengungsi Chechnya kelahiran Moskow berusia 18 tahun yang kemudian ditembak mati oleh Polisi Prancis.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut pelaku pembunuh Samuel Paty sebagai ‘serangan teror Islam. 

Sumber: Fajar.co.id


Saudi Kecam Penerbitan Ulang Karikatur Nabi Muhammad
Tuesday, October 27, 2020

On Tuesday, October 27, 2020


INFONUSANTARA.NET --Kerajaan Arab Saudi mengecam penerbitan ulang karikatur Nabi Muhammad S.A.W., oleh majalah satir Prancis, Charlie Hebdo.

Menurut kantor berita Arab Saudi, SPA, yang dikutip Arab News, Selasa (27/10), pihak kerajaan juga mengutuk tindakan teroris dalam bentuk apa pun, terlepas dari pelakunya. Selain itu Kerajaan Arab Saudi meminta supaya penerapan kebebasan intelektual dan budaya untuk mempromosikan rasa hormat, toleransi, serta perdamaian.

Kecaman terbaru ini menambah daftar panjang beberapa negara berpenduduk mayoritas Islam lain yang telah lebih dulu mengecam pernyataan Macron.

Kemarin, Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, menuduh Macron, "menyerang Islam" karena pernyataannya dianggap menyudutkan dan mengkritik masyarakat Islam dengan cara menutup masjid dan mengawasi sejumlah organisasi masyarakat Muslim, usai kejadian pembunuhan seorang guru.

Khan juga menuduh Macron membela penerbitan ulang kartun Nabi Muhammad S.A.W., oleh majalah Charlie Hebdo.

Dalam serangkaian cuitan di Twitter pada Minggu (25/10) kemarin, Khan mengatakan bahwa pernyataan Macron yang menyebut "Islam adalah agama yang sedang dalam krisis di seluruh dunia" menimbulkan perpecahan.

"Ini adalah saat di mana Presiden Macron bisa memberikan sentuhan penyembuhan dan menyangkal ruang bagi para ekstremis daripada menciptakan polarisasi dan marginalisasi lebih lanjut yang pasti mengarah pada radikalisasi," cuit Khan seperti dikutip dari AFP, Senin (26/10) kemarin.

"Sangat disayangkan bahwa dia memilih untuk mendorong Islamofobia dengan menyerang Islam daripada teroris yang melakukan kekerasan, baik itu Muslim, Supremasi Kulit Putih, atau ideologi Nazi," tambahnya.

Kritikan yang cukup tajam terhadap Macron datang dari Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Setelah mengatakan bahwa Macron perlu diperiksa kejiwaannya terkait komentar tersebut, ia mengajak untuk memboikot produk-produk Prancis.

"Jangan pernah menghargai barang-barang berlabel Prancis, jangan membelinya," tutur Erdogan mengutip AFP.

Ajakan memboikot produk-produk Prancis juga menggema di Qatar, Kuwait serta beberapa negara Timur Tengah lainnya. Barang-barang buatan Prancis sudah banyak yang ditarik dari supermarket setempat.

Bahkan warga Suriah sudah membakar foto Macron. Di Tripoli, Libya, warga membakar bendera Prancis sebagai sikap kecaman atas pernyataan Macron.

Macron menjadi sorotan dunia karena menyebut Islam tengah mengalami krisis. Dia juga menuding kelompok radikal Muslim di Prancis bertekad mengubah nilai-nilai liberalisme dan sekularisme di dalam masyarakat.

Macron menyatakan hal itu beberapa hari setelah peristiwa pemenggalan seorang guru sejarah dan geografi, Samuel Paty (47), yang membahas karikatur Nabi Muhammad S.A.W., dalam topik pembelajaran di kelas. Sikapnya memicu kritik dari sejumlah orang tua murid yang merupakan Muslim.

Bahkan salah satu orang tua murid membahas masalah itu melalui media sosial. Pelaku kemudian melihat hal itu dan berencana membunuh Paty.

Paty lantas diserang dan dipenggal saat pulang kerja pada 16 Oktober lalu. Polisi kemudian menembak mati pelaku.

Sumber:CNN Indonesia

PM Pakistan Sebut Presiden Macron Serang Islam
Tuesday, October 27, 2020

On Tuesday, October 27, 2020

Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan. Khan mengkritik Presiden Prancis, Emmanuel Macron, atas sikapnya yang dinilai menyudutkan umat Islam usai insiden pembunuhan guru. (AP/K.M. Chaudary)

INFONUSANTARA.NET -- Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, menuduh Presiden Prancis, Emmanuel Macron, "menyerang Islam" karena dianggap menyudutkan dan mengkritik masyarakat Islam dengan cara menutup masjid dan mengawasi sejumlah organisasi masyarakat Muslim, usai kejadian pembunuhan seorang guru.

Khan juga menuduh Macron membela penerbitan ulang kartun Nabi Muhammad S.A.W., oleh majalah Charlie Hebdo.

Dalam serangkaian cuitan di Twitter pada Minggu (25/10) kemarin, Khan mengatakan bahwa komentar Macron menimbulkan perpecahan.

"Ini adalah saat di mana Presiden Macron bisa memberikan sentuhan penyembuhan dan menyangkal ruang bagi para ekstremis daripada menciptakan polarisasi dan marginalisasi lebih lanjut yang pasti mengarah pada radikalisasi," cuit Khan seperti dikutip dari AFP, Senin (26/10).

"Sangat disayangkan bahwa dia memilih untuk mendorong Islamofobia dengan menyerang Islam daripada teroris yang melakukan kekerasan, baik itu Muslim, Supremasi Kulit Putih, atau ideologi Nazi," tambahnya.

Komentar Khan muncul menyusul pernyataan Macron pada pekan lalu dalam insiden pemenggalan kepala yang menimpa seorang guru sejarah di Prancis, Samuel Paty. Macron mengatakan bahwa Paty "dibunuh karena kaum Islamis menginginkan masa depan kita".

Kasus pemenggalan Samuel Paty terjadi setelah guru sejarah itu dilaporkan membahas soal kartun Nabi Muhammad S.A.W., kepada murid-muridnya di kelas dalam topik tentang kebebasan berpendapat. Paty kemudian menjadi sasaran kampanye kebencian melalui daring oleh salah seorang wali murid.

Penerbitan kartun memicu serangan teror penembakan di kantor redaksi Charlie Hebdo di Paris pada Januari 2015, yang dilakukan oleh lelaki Muslim.

Pernyataan Macron juga memicu kontroversi ketika dia mengatakan bahwa "Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia".

Sosok Nabi Muhammad S.A.W., tidak patut digambarkan melalui karikatur. Hal itu juga dinilai sebagai bentuk penodaan agama.

Penodaan agama adalah masalah yang mudah memicu kemarahan di kalangan masyarakat Pakistan yang ultra-konservatif. Di mana pun dan siapa pun yang dianggap telah menghina agama atau tokoh Islam dapat menghadapi hukuman mati.

"Dengan menyerang Islam, jelas tanpa memahaminya, Presiden Macron telah menyerang dan melukai sentimen jutaan Muslim di Eropa dan di seluruh dunia," kata Khan.

Bulan lalu, dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Khan mengecam majalah Charlie Hebdo karena menerbitkan ulang kartun tersebut. Dia mengatakan "provokasi yang disengaja harus dilarang secara universal".

Pada Minggu malam pekan lalu, kantor perdana menteri Pakistan mengatakan dia telah menulis pesan kepada CEO Facebook, Mark Zuckerberg, untuk meminta raksasa media sosial itu menghapus muatan yang terkait Islamofobia.

Pekan lalu, Facebook mengatakan akan melarang konten yang menyangkal atau mendistorsi peristiwa pembantaian etnis Yahudi oleh pada Perang Dunia II (Holocaust).

"Mengingat maraknya pelecehan dan fitnah terhadap Muslim di platform media sosial, saya akan meminta Anda untuk menempatkan larangan serupa terhadap Islamofobia dan kebencian terhadap Islam di Facebook, (seperti) yang telah Anda lakukan untuk Holocaust," tulis Khan.

Sumber:CNN Indonesia