Articles by "50Kota"

Showing posts with label 50Kota. Show all posts

Foto yang diposting Denny Siregar di akun twitternya. Mereka Ini Memang Pengin Bikin Kerusuhan di Jakarta.


INFONUSANTARA.NET --
Penggiat Media Sosial Denny Siregar mengungkap ada gerakan yang ingin membikin kerusuhan di Jakarta. Bahkan ia mengungkap, gerakan tersebut di ada bohirnya. 

"Sebuah mobil yang berisikan anggota FPI disetop polisi di Nagreg Cicalengka. Mereka mau demo di Jakarta besok. Perhatikan bawaannya, senjata tajam dan busur panah. Mereka ini memang pengen bikin kerusuhan di Jakarta..," ungkap Denny Siregar di akun twitternya @Dennysiregar7 pada Kamis, 17 Desember 2020, seperti dilansir dari BentengSumbar.com.

Pada cuitan lainnya, Denny Siregar menginformasikan dua orang pesepeda motor yang ditangkap polisi saat razia di jalan Dharmawangsa, Jakarta.

Menurut Denny, kemungkinan mereka sedang bersiap untuk demo, Jumat, 18 Desember 2020 dan lagi-lagi mereka membawa senjata tajam.

Denny pun mengungkap, skenario rusuh oleh FPI sedang disiapkan dan mereka sedang mencoba balas dendam ke aparat.

"Dua orang lagi naik motor juga tertangkap razia @DivHumas_Polri di jl Dharmawangsa, Jakarta. Kemungkinan mereka sedang bersiap untuk demo besok. Lagi-lagi bawa senjata tajam..Skenario rusuh oleh FPI sedang disiapkan. Hati2, mereka sedang coba balas dendam ke aparat..," ungkap Denny.

Denny menjelaskan, ada yang mobilisasi untuk demo di istana pada Jumat, 18 Desember 2020. 

Pasalnya, kata Denny, bus-bus dari Jawa Barat sampai Lampung diarahkan ke Jakarta. Denny menduga ada bohirnya. 

"Ada yang mobilisasi untuk demo di istana besok. Bus bus dari Jabar sampe Lampung diarahkan ke Jakarta. Ada bohirnya. Tapi polisi udah siap. Rombongan dicegat2in di jalan. Nanti massa tinggal seupil, trus dipantau koordinator2nya. Kalo udah sepi, baru pada dijemputin mereka," urai Denny

Mohammad Natsir (berkacamata dan memakai peci) Ketua Umum Masyumi, sedang menanti giliran untuk menukar surat suara, 29 September 1955. (Sumber: ANRI)

"Deklarasi partai yang didirikan pada 1945 ini dilakukan di Gedung Dewan Dakwah, Jakarta Pusat, Sabtu (7/11). Pembacaan deklarasi dipimpin oleh Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Partai Islam Ideologis (BPU-PPII), A. Cholil Ridwan.

INFONUSANTARA.NET -- Sejumlah petinggi Komite Aksi Menyelamatkan Indonesia(KAMI)mendeklarasikan kembali berdirinya Partai Masyumi hari ini, bertepatan dengan 75 tahun peringatan berdirinya partai tersebut.

Meski cukup mengejutkan karena wacana ini tak lagi terdengar dalam sepuluh tahun terakhir, upaya untuk menghidupkan kembali Masyumi sebenarnya sudah berkali-kali dilakukan oleh mereka yang mengklaim sebagai pewarisnya.

Partai Masyumi kembali aktif setelah deklarasi resmi pada Sabtu (7/11) yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-75 Partai Masyumi.

Deklarasi partai yang didirikan pada 1945 ini dilakukan di Gedung Dewan Dakwah, Jakarta Pusat, Sabtu (7/11). Pembacaan deklarasi dipimpin oleh Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Partai Islam Ideologis (BPU-PPII), A. Cholil Ridwan.

"Kami yang bertanda tangan di bawah ini, mendeklarasikan kembali aktifnya Partai Politik Islam Indonesia yang dinamakan 'Masyumi'," kata Cholil dalam deklarasi yang disiarkan secara virtual, Sabtu (7/11).

Dalam deklarasi tersebut, Partai Masyumi berjanji akan berjihad demi terlaksananya ajaran dan hukum Islam di Indonesia melalui Masyumi.

Usai membacakan ikrar, para peserta deklarasi langsung memekikkan takbir,AllahuAkbar!

Deklarasi ini rencananya juga akan mengumumkan calon Majelis Syuro Partai Masyumi.

Adapun calon-calon Majelis Syuro di antaranya; mantan Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abdullah Hehamahua, mantan Menteri Kehutanan Malam Sambat Kaban, Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain, Budayawan Ridwan Saidi, hingga Kiai Abdul Rosyid Syafei.

Sebelumnya, Sekretaris Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Partai Islam Ideologis (BPU-PPII) Taufik Hidayat, mengatakan, kebangkitan Masyumi ini didasari dengan kerinduan akan partai islam ideologi seperti Partai Masyumi masa lalu.

Ia mengatakan, pihak-pihak di belakang Masyumi kali ini merasakan sudah sedikit sekali partai politik yang ideologis baik kebijakannya maupun integritas para politisinya.

"Kerinduan tersebut muncul karena mayoritas para politisi Masyumi adalah orang orang yang kuat pembelaannya terhadap syariat Islam, dan mampu menunjukkan solusi terbaik bagi bangsa Indonesia melalui ajaran Islam yang rahmatan lil 'alamin," kata Taufik, seperti dikutip dari situs resmi Masyumi.

Perjalanan Masyumi sebagai organisasi terbesar di seluruh Indonesia

Bemdera Lambang Partai Masyumi

Persis seperti apa yang pernah dikatakan Mohammad Natsir pada sebuah pidatonya pada 17 Desember 1952: "Masyumi sebagai organisasi terbesar di seluruh Indonesia adalah mempunyai semangat jihad, dan masing-masing dari kami dapat didiamkan dengan bermacam cara. tapi ribuan orang akan menggantikannya..."

Natsir sendiri merupakan salah satu tokoh yang membidani lahirnya Masyumi.

Gagasan untuk mendirikan partai politik itu muncul setelah serangkaian diskusi panjang mengenai masa depan politik Islam setelah Indonesia merdeka 1945.

Sebelumnya, Masyumi - akronim dari Majelis Syuro Muslimin Indonesia, adalah organisasi masyarakat yang dibentuk Jepang pada 1943 untuk meredam potensi pemberontakan yang mungkin dikerahkan kelompok Islam.

Anggotanya adalah perkumpulan-perkumpulan Islam yang mendapat status legal dari pemerintah serta para kiai dan ulama yang mendapat rekomendasi dari Shumubu (Biro Urusan Agama).

Keputusan untuk memakai Masyumi sebagai nama partai diambil dalam Kongres Umat Islam pada 7-8 November di Gedung Madrasah Mu'alimin Yogyakarta.

Pada kongres itu pula, Sukiman Wirjdosandjojo terpilih sebagai ketua Pengurus Besar dan KH Hasyim Asy'ari sebagai ketua Majelis Syuro.

Dalam Anggaran Dasarnya, disebutkan bahwa Masyumi memiliki tujuan: terlaksananya ajaran dan hukum Islam dalam kehidupan orang-seorang masyarakat, dan negara Republik Indonesia, menuju keridaan Ilahi.

Selain organisasi yang telah berafiliasi sejak jaman penjajahan jepang, anggota Masyumi juga terdiri dari berbagai ormas Islam dan perorangan yang kemudian ikut bergabung.

Dualisme keanggotaan diperbolehkan dengan pertimbangan memperbanyak anggota.

"Agar Masyumi dapat dilihat sebagai wakil umat Islam tanpa ada yang merasa terwakili," tulis Deliar Noer dalam Partai Islam di Pentas Nasional.

Meki demikian, sistem keanggotaan tersebut ternyata membuat Masyumi lapuk karena tak henti mengalami pertentangan internal, terutama antara kelompok sosialis-religius yang dipimpin Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara dan Mohammad Roem dengan kelompok konservatif dan golongan tua yang dipimpin Sukiman dan Jusuf Wibisono.

Kelak pertentangan-pertentangan tersebut juga membuat Mayumi terlihat bersikap mendua: menjadi partai oposisi tapi membiarkan anggotanya, atas nama perorangan, masuk dalam kabinet Sjahrir.

Tapi bukan karena masuknya para anggota mereka ke kabinet yang memunculkan perpecahan, melainkan sikap oposisi partai itu sendiri.

Beberapa mantan pemimpin Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) yang kurang mendapat tempat di Masyumi memilih keluar, menghidupkan kembali PSSI dan bergabung Kabinet Amir Sjarifudin pada 1947.

Pada Desember 1949, dalam muktamar di Yogyakarta, Natsir terpilih sebagai ketua umum partai.

Kemenangan ini tak lepas dari peran faksi kelompok sosial-religius dalam perundingan-perundingan menuju pengakuan kedaulatan oleh Belanda.

Sukiman Wirjosandjojo, dengan alasannya sebagai figur sentral diangkat menjadi Ketua Kehormatan.

Belakangan, posisi tersebut dihapuskan karena yang memunculkan dualisme kepemimpinan. Sejak saat itu, ia jadi wakil dan berada di bawah Natsir.

Pada dasarnya Sukiman sendiri lebih disukai NU karena dianggap moderat dan luwes. namun dalam posisi tersebut, ia dianggap kurang berpengaruh dan banyak pengikutnya kehilangan kedudukan.

Tak pelak NU merasa kian tersisihkan. Apalagi fungsi Majelis Syuro, yang berisi para kiai atau ulama, juga dipreteli dan menjadi hanya sebagai dewan konsultatif yang tak mempengaruhi kebijakan partai.

Hal ini membuat Masyumi bawah kepemimpinan Natsir makin terpecah meski mereka memimpin kabinet dalam kurun waktu 1950-1956 (Natsir, Sukiman, Harahap) dan menjadi pemimpin bersama PNI dalam kabinet Wilopo.

1952 menjadi titik akhir keanggotaan NU di Masyumi. Pencopotan NU dari jabatan Menteri Agama serta kritik terhadap KH Wahid Hasyim yang dinilai telah salah mengatur program haji, memperuncing konflik di tubuh Masyumi dan membuat NU memutuskan keluar dari partai.

Saat itu, Masyumi sebenarnya berada di posisi genting lantaran terus dianggap terlibat dengan Darul Islam Indonesia (DII) yang dideklarasikan SM Kartosuwiryo pada 1947.

Masyumi kemudian terjerembab setelah para petingginya terutama Natsir, Burhanuddin Harahap dan Sjafruddin Prawiranegara terlibat dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dianggap sebagai gerakan separatis.

Bersamaan dengan itu organisasi Islam besar juga menarik diri dari Masyumi di antaranya Muhammadiyah dan Persatuan Islam.

Pada 17 Agustus 1960 Soekarno resmi membubarkan Masyumi lewat Kepres 200/1960 dan memenjarakan kader yang terlibat PRRI.

Abdullah Hehamahua, mantan penasihat KPK sekaligus petinggi KAMI yang pernah terlibat aktif dengan Dewan Dakwah dan dekat dengan tokoh Masyumi, mengatakan upaya menghidupkan kembali partai usai para petingginya bebas pada 1965 ditolak oleh Soeharto.

Orde Baru menghendaki wadah baru bernama Partai Muslimin Indonesia yang kemudian berfusi dengan tiga partai Islam lainnya yakni Nahdlatul Ulama (NU), Pergerakan Tarbiah Islam (Perti), dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) menjadi PPP.

"Pemerintah Orde Baru waktu itu melalui Ali Moertopo mengkudeta Parmusi. Sehingga akhirnya kemudian Parmusi pun berada dalam kendali penguasa," jelasnya.

Setelah Soeharto lengser, kemudian Dewan Dakwah sebagai kelanjutan dari Masyumi melakukan musyawarah besar seluruh Indonesia di Jakarta pada 1998.

Salah satu keputusannya adalah mengamanatkan Dewan Dakwah untuk melaksanakan Kongres Umat Islam Indonesia. Salah satu tujuannya adalah untuk merehabilitasi dan mendirikan partai Masyumi.

Dari proses tersebut lahirlah Partai Politik Islam Indonesia Masyumi yang akhirnya mengikuti Pemilu 1999.

Namun raihan suara yang diperoleh jauh dari harapan dan mereka dengan segera menjadi partai gurem yang tak bisa ikut dalam kontestasi Pemilu 2004.

Cita-cita untuk menjadikan ajaran dan hukum Islam sebagai dasar negara yang sebelumnya diperjuangkan Masyumi dan kandas di Konstituante pun terus terkubur hingga sekarang.

Sumber:CNN Indonesia

 

Ilustrasi keluarga ambil paksa jenazah Covid-19 dari RS (ist)
Infonusantara.net --Keluarga pasien positif Covid-19 mengambil paksa jenazah anggota keluarganya dari RSUD Achmad Darwis, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Kamis (15/10) malam. Mereka melakukan itu karena tersinggung terhadap pihak rumah sakit.

Kasat Reskrim Polres Limapuluh Kota, AKP Nofrizal Chan, mengatakan bahwa keluarga pasien tersinggung karena pihak RSUD Achmad Darwis menawarkan kepada keluarga bahwa jenazah diletakkan di mobil jenazah satu malam. Pihak rumah sakit mengatakan itu karena jenazah tak bisa diletakkan di sana lantaran tak ada kamar jenazah.

"Jenazah tak bisa dikuburkan malam itu karena hari sedang hujan. Persoalannya, di mana jenazah diletakkan sebelum dikubur pagi hari. Pihak rumah sakit mengatakan jenazah tak bisa diletakkan di rumah sakit karena di sana tak ada kamar jenazah," ujarnya seperti dilansir dari CNNIndonesia.com, Jumat (16/10).

Kata Nofrizal, pihak rumah sakit menyarankan jenazah diletakkan di mobil jenazah sampai pagi. "Itulah yang membuat keluarga tersinggung dan membawa jenazah ke rumah," katanya.

Nofrizal menganggap masalah tersebut sebagai kesalahpahaman antara keluarga dan pihak rumah sakit. Karena itu, pihaknya tidak akan membawa hal itu ke ranah hukum.

"Pihak keluarga mau jenazah dimakamkan berdasarkan protokol kesehatan pemakaman jenazah positif Covid-19. Mereka hanya tersinggung dengan cara pihak rumah sakit memperlakukan jenazah anggota keluarganya," tuturnya.

Nofrizal mendapatkan informasi bahwa jenazah pasien itu akhirnya dimakamkan dengan protokol kesehatan oleh pihak rumah sakit pada Jumat (16/10) pagi.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Limapuluh Kota, Fery Chofa, mengatakan bahwa pasien positif Covid-19 yang meninggal itu laki-laki berinisial N (62). Pasien itu memang positif Covid-19 dan meninggal pada Kamis (15/10) sekitar 19.00 WIB.

Sehubungan dengan pengambilan paksa jenazah oleh keluarga, Fery mengatakan bahwa pihaknya akan menelusuri orang-orang yang berkontak erat dengan jezanah tersebut. Setelah itu, pihaknya mengambil spesimen orang-orang yang berkontak erat itu untuk dites swab PCR.

Kasus pengambilan paksa jenazah pasien positif Covid-19 di Limapuluh Kota kali pertama terjadi pada Senin (24/8) malam. Puluhan warga mengusir tim medis yang ingin memakamkan jenazah. Mereka bahkan membongkar peti mati dan mengambil jenazah.


Unggahan dokter hewan SY yang diduga makar. [Facebook]
Penangkapan terhadap YS terbilang cukup rumit, karena pria tersebut kerap berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Pemeriksaan dokter hewan warga Limapuluh Kota di Mapolres Limapuluh Kota. [Antara/istimewa]

Infonusantara.net - Tim gabungan Satreskrim dan Satintelkam Polres Limapuluh Kota, Sumatera Barat, menangkap seorang dokter hewan berusia 50 tahun berinisial SY, atas dugaan melakukan perbuatan makar.

“Iya, tim gabungan mengamankan seorang pria berinisial YS sesuai Laporan Polisi Nomor: L/P /A/57/V/2019/SPKT–LPK tanggal 31 Mei 2019," ujar Kasat Reskrim Polres Limapuluh Kota Ajun Komisaris Anton Luther, di Sarilamak, dilansir dari Antara, Senin (3/6/2019).

Ia mengatakan, penangkapan terhadap pria warga Padang Jopang, VII Koto Talago Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota tersebut dilakukan pada Senin dini hari sekitar pukul 02.30 WIB. Ia ditangkap di kawasan jalan negara Tanjung Pati, Kecamatan Harau.

Anton menjelaskan, pria kelahiran Pekanbaru tersebut diduga makar karena mengunggah foto sebuah pulau yang ditulis Republik Andalas Raya.

Foto tersebut diunggah  SY ke akun Facebook bernama Drh Syahrizal. Dalam foto Republik Andalas Raya itu juga tertulis kalimat:

“ Saya tidak ingin makar tapi jika kalian pikir NKRI itu hanya hitungan jumlah pemilih di Pulau Jawa, saya punya hak untuk bergerak paling terdepan untuk mewujudkan ini. Jangan kalian anggap ini hanya meme meme main-mainan saja #kamitelahsedang bergerak,” tulis akun tersebut.

Selain itu juga tertulis beberapa kalimat yang merongrong dan menuding pemerintah zalim, semena-mena, bernada hasutan serta bernada ujaran kebencian.

Penangkapan dokter hewan itu dipimpin langsung Kapolres Limapuluh Kota Ajun Komisaris Besar Haris Hadis didampingi Kasat Reskrim Ajun Komisaris Anton Luther dan Kasat Intelkam Polres Limapuluh Kota, AKP Zukri Ilham.

Penangkapan terhadap YS terbilang cukup rumit, karena pria tersebut kerap berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Namun, berkat kerja sama tim gabungan yang didukung langsung Tim Polda Sumbar, akhirnya berhasil menangkap lelaki tersebut.

Ia ditangkap seusai menghadiri acara di kawasan Tanjung Pati. Ia selanjutnya dibawa ke Mapolres Limapuluh Kota untuk menjalani pemeriksaan.

Seusai menjalani pemeriksaan di Mapolres Limapuluh Kota, pria berbadan kurus itu langsung dibawa ke Mapolda Sumbar untuk menjalani pemeriksaan lanjutan di bagian Subdit Cyber Kriminal Khusus Polda Sumbar.

Anton juga menyebutkan, YS yang sudah ditetapkan menjadi tersangka itu dapat diduga melanggar tindak pidana setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki maksud penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

"Tindak pidana itu diduga dilakukan oleh pemilik akun Drh Syahrizal dengan mengunggah muatan penghinaan serta muatan untuk melakukan makar dengan maksud hendak memisahkan suatu daerah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia," katanya.

Sumber: Antara 

Bupati Limapuluh Kota, H.Irfendi Arbi Serahkan Bantuan Safari Ramadhan pada Pengurus Masjid Akhdhar 
INFO (Limapuluh Kota)   - Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah. Setiap amal kebaikan selama bulan suci ini akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. Jangan sampai ada warga miskin yang tidak bisa berbuka puasa dalam bulan istimewa ini.

Hal itu disampaikan Bupati Limapuluh Kota H. Irfendi Arbi selaku ketua tim safari Ramadhan di Masjid Akhdhar Kenagarian Situjuah Ladang Laweh Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Senin (28/5).

“Kita tidak ingin ada warga yang tidak bisa memasak untuk berbuka puasa. Kita harus bersimpati dan peduli terhadap mereka yang hidup serba kekurangan tersebut. Mari kita beri makan untuk berbuka orang miskin seperti yang dianjurkan Rasullullah SAW,” papar Irfendi.

Dikatakan, bulan penuh rahmat ini hendaknya benar-benar dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperbanyak amal shaleh seperti saling membantu dengan sesama, termasuk bantuan untuk pendidikan anak dari keluarga tidak mampu.

“Mari kita berlomba-lomba berbuat kebaikan dan melaksanakan amal sholeh di bulan istimewa ini, termasuk menunjukan kepedulian terhadap warga miskin. Sebab, Allah menjanjikan pahala berlipat ganda,” tutur Irfendi sembari menegaskan tidak mau ada anak pintar dari keluarga miskin batal kuliah karena tidak memiliki ongkos atau karena ketiadaan biaya pendaftaran.

Dalam kunjungan safari Ramadhan Pemkab Limapuluh Kota itu Bupati Irfendi juga menyerahkan bantuan bagi Masjid Akhdhar sebesar Rp10 juta dan bantuan sembako berupa 20 karung beras bagi para warga miskin. Selain itu bupati Irfendi juga membagikan bantuan dana sosial bagi sejumlah warga miskin dari Baznas Kabupaten Limapuluh Kota.

Sebelumnya pada sesi dialog, warga Dasril Mukhtar berharap bantuan papan penunjuk jalan masuk Nagari Situjuah Ladang Laweh, agar orang tahu ke mana jalur menuju nagari yang berada di pinggang Gunung Sago tersebut. Selain itu, warga juga mempertanyakan kebenaran adanya bantuan dana Swisindo sebesar Rp 15 juta/perbulan. Sebab, sudah lewat setahun berlalu, janji bantuan tersebut tak kunjung terealisasi.

Menjawab aspirasi warga tentang papan penunjuk arah, Bupati Irfendi menyebut akan meneruskan langsung ke Dinas Perhubungan.

Sementara terkait dengan Swisindo, Wakil Kapolsek Situjuah Limo Nagari Iptu Franuddin meminta masyarakat tidak mudah percaya dan terperdaya dengan segala bujuk rayu pihak tertentu.

“Saya harap warga tidak mudah tergoda dengan iming-iming Swisindo yang menjanjikan bantuan uang jutaan rupiah setiap bulannya. Hingga kini semua itu hanya bohong dan tidak terbukti. Untuk memastikan kebenaran adanya dana Swisindo tersebut, bisa dicek ke bank-bank pemerintah,” ungkap Franuddin.

Ikut hadir dalam safari Ramadhan itu sejumlah kepala OPD, pengurus Baznas dan pihak Kemenag Kabupaten Limapuluh Kota. (Ul)

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.