Ilustrasi (Foto:Doc. google.com)
INFONUSANTARA.NET
Jakarta - Kecemburuan kesejahteraan bisa menjadi salah satu faktor pemicu bentrokan karena seseorang yang berpangkat sama di institusi TNI dan Polri memiliki tingkat kesejahteraan yang berbeda.

Dalam Rapat Kerja di Komisi I DPR RI, Sukamta Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
menyinggung bentrok antara oknum prajurit TNI dan anggota Polri yang terjadi di Markas Polsek Ciracas. Dia menyoroti faktor kecemburuan kesejahteraan antara prajurit TNI dan anggota Polri.

Menurutnya, kecemburuan kesejahteraan bisa menjadi salah satu faktor pemicu bentrokan karena seseorang yang berpangkat sama di institusi TNI dan Polri memiliki tingkat kesejahteraan yang berbeda.

"Sebut saja secara bahasa kasarnya itu kecemburuan, sama-sama kapten antara prajurit TNI dengan Polri itu jauh sekali tingkat kesejahteraannya," kata Sukamta Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin.

Ia pun meminta agar Kementerian Pertahanan (Kemhan) meningkatkan kesejahteraan anggota TNI di hari mendatang. 

Menurutnya, bentrokan antara anggota TNI dan Polri akan terus terjadi bila masalah kecemburuan kesejahteraan tidak segera diselesaikan.

"Bukan kita ingin mengurangi polisi, yang sudah sejahtera ini kita dorong terus, tapi kita berharap yang TNI bisa diakselerasi supaya bisa mengejar. Sebab, kalau ini akar masalahnya, kita mau ancam dengan keras, mau kita disiplinkan bagaimana pun juga, sepanjang perasaan cemburu itu tidak diselesaikan ini akan bisa terus dipicu," ujar Sukamta.

Bentrokan antara TNI dengan Polri di Markas Polsek Ciracas, Jakarta Timur pada Sabtu (29/8) dini hari lalu. Kejadian bermula dari hoaks prajurit TNI yang bertugas di Direktorat Hukum Angkatan Darat (Ditkumad) bernama Prada Muharman Ilham (MI) mengaku dikeroyok.

Setelah ditelusuri, ternyata Prada MI mengalami kecelakaan tunggal dan tidak mengalami pengeroyokan yang memicu penyerangan tersebut. Prada MI mengalami kecelakaan tunggal akibat tidak konsentrasi dan tidak dapat mengendalikan motornya saat akan menyalip motor yang ada di depannya.

Ditemukan bahwa prajurit MI telah menghubungi 27 rekannya soal hoaks dirinya mengalami pengeroyokan.

Dalam keterangannya kemarin, Minggu (30/8/2020) Panglima TNI Marsekal  mengatakan sejauh ini, sebanyak 31 anggota TNI AD yang terlibat dalam insiden tersebut telah diperiksa. 

Dari jumlah itu,19 personel TNI AD lainnya masih dalam proses pemeriksaan.Sedangkan 12 orang di antaranya ditahan di Polisi Militer Kodam Jaya (Pomdam Jaya),Guntur, Jakarta. 
Sumber:CNNIndonesia

INFO NUSANTARA'PERSADA

 
Top