Masyarakat adat punya rumah itu digusur sehingga masyarakat sementara hidup di bawah pohon, anak -anak dan perempuan trauma.(Foto/ist)

INFONUSANTARA.NET

NTT - Intimidasi dan nasionalisasi yang terjadi sehari-hari pada masyarakat Besipae terjadi setelah Presiden Joko Widodo mengenakan pakaian adat mereka dalam peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-75 di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (17/08).

Dalam unggahan Instagramnya, Presiden Joko Widodo hanya menjelaskan terkait makna busana dan kain tenun yang dikenakannya tanpa menyinggung konflik lahan yang melaporkan masyarakat adat Besipae.

https://www.instagram.com/p/CD-1sw_BzAd/?utm_source=ig_web_copy_link

Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi, menyebut di balik baju adat yang dikenakan presiden adalah "potret gelap" masyarakat adat yang tidak hanya melayani masyarakat adat Besipae, namun juga masyarakat adat di berbagai daerah.

Rukka Sombolinggi dari AMAN menyebut apa yang terjadi sebagai "ironis" dan "mencederai kemerdekaan".

"Di balik baju adat itu ternyata ada potret gelap masyarakat adat yang ada di sana dan ini tidak hanya terjadi di sana tapi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Masyarakat adat masih mengalami kekerasan,” ujar Rukka.

"Ini kan hal-hal yang saya sebut cedera janji kemerdekaan karena ternyata hampir delapan dekade, 75 tahun Indonesia merdeka, tapi masyarakat adat belum merdeka," jelasnya.

Pada Selasa (18/08) siang, aparat gabungan TNI, Polri dan Satpol PP mendatangi masyarakat adat Besipae yang tinggal di Linamnutu, Amunaban Selatan yang terletak di Kabupaten Timur Tengah Selatan, NTT.

Bangunan rumah yang selama ini menjadi tempat pengungsian warga yang mempertahankan hutan adat mereka dirubuhkan. Perempuan dan anak-anak di lokasi mendapat intimidasi, baik verbal maupun fisik oleh aparat.

Salah satu tokoh masyarakat Besipae, Nikodemus Manao, menyebut banyak anak-anak dan perempuan merasa trauma, apalagi setelah tiga tembakan peringatan aparat meletus.

“Banyak trauma, khususnya anak-anak dan ibu-ibu karena dihadapkan dengan aparat Brimob dan tentara yang datang dengan senjata laras panjang,” tutur Nikodemus kepada BBC News Indonesia, Rabu (19/08).

"Apalagi ketika mereka datang belum ada persiapan relokasi, masyarakat punya rumah itu digusur sehingga masyarakat sementara hidup di bawah pohon," katanya kemudian.

Kepada BBC Indonesia, Nikodemus mengaku bahwa rumah tinggal dirubuhkan pada Kamis (13/08) silam ketika dirinya berada di Kupang. Barang berharga di rumah tahanan kini tak ada rimbanya.

"Ketika saya lihat rumah saya digusur, saya merasa sedih dan saya pikir ini risiko perjuangan seperti ini," ujarnya pelan.

Sejak Kamis pekan lalu hingga kini, Nikodemus beserta istri dan anaknya yang masih balita udah tinggal di pekarangan dengan berlindung di bawah pohon bersama dengan anggota masyarakat lain yang tinggal digusur.

"Sementara kami berlindung di bawah pohon, anak-anak kami juga tidak bisa diperhatikan karena untuk mandi anak sendiri tidak punya udara, karena kami di sini jauh dari mata air," jelas Nikodemus. "Ada 29 KK yang sama-sama tinggal di bawah pohon," katanya.

Fadli Anetong, dari Aliansi Solidaritas Basipae menyatakan imbas dari kehilangan tempat tinggal itu, mereka kini tinggal di alam terbuka, beralaskan tikar dan beratap langit. “Kalau malam mereka tidur di hamparan kosong,” jelas Fadli.
(Sumber:BBC News)

INFO NUSANTARA PERSADA

 
Top