Petinggi PKS Sindir Risma: Di Kolong Jembatan Banyak di Surabaya

Petinggi PKS Hidayat Nur Wahid menyindir gelagat Mensos Tri Rismaharini yang rajin menemui pemulung dan pengemis di Jakarta (CNN Indonesia)

INFONUSANTARA.NET -- Aksi eks Walikota Surabaya Tri Rismaharini setelah didapuk sebagai Menteri Sosial pada hari pertama berkantor di Kemensos, Jakarta, 28 Desember 2020 langsung blusukan ke sejumlah titik di ibu kota RI tersebut mendapat sorotan publik.

Wakil Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid yang juga Anggota Komisi VIII DPR RI itu menyatakan masyarakat yang tinggal di kolong jembatan masih sangat banyak ditemukan di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Dia bicara demikian menanggapi gelagat eks Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang rajin menemui pemulung dan pengemis di Jakarta usai didapuk menjadi Menteri Sosial.

"Kalau beliau datang ke Jakarta dan kemudian datang ke kolong dan sebagainya, ternyata di Surabaya masih banyak sekali atau masih banyak yang begitu. Apakah beliau sedang kangen-kangenan dengan Surabaya sehingga di Jakarta ke kolong juga?" imbuhnya sebagaimana dilansir dari CNNIndonesia.com, Selasa (5/1).

Hidayat Nur Wahid juga merespons anggapan publik bahwa Risma tengah melakukan pencitraan. Menurutnya, asumsi itu wajar muncul karena masyarakat juga suka membandingkan.

"Itu bagian dari reaksi publik. Beliau yang sudah lama di Surabaya juga tentu paham bahwa rakyat punya hak menyuarakan apa yang ada dalam pikiran mereka, karena rakyat juga membandingkan," katanya.

Anggota Komisi VIII DPR RI itu lalu meminta Risma fokus untuk menyelesaikan dua masalah utama di Kemensos saat ini.

Pertama, menurut dia, Risma harus membenahi data tentang calon penerima bantuan sosial (bansos) tunai yang baru diluncurkan Jokowi. Menurutnya, data tersebut harus segera divalidasi dan diverifikasi karena banyak yang bermasalah. Seharusnya beliau konsentrasi di situ supaya tidak terjadi pengulangan terjadi korupsi akibat data yang tidak valid," katanya.

Selanjutnya, Risma perlu segera memastikan program bansos tunai benar-benar membantu rakyat yang terdampak pandemi Covid-19 dan bisa menggerakan ekonomi masyarakat.

Hidayat pun menyayangkan berkurangnya anggaran perlindungan sosial yang semula Rp128,9 triliun di 2020 menjadi Rp110 triliun di 2021, sementara bansos tunai turun dari Rp39 triliun pada 2020 menjadi Rp12 triliun di 2021 alias berkurang sebesar Rp27 triliun.

"Risma seharusnya fokus di sini, amankan anggaran itu supaya bisa efektif membantu rakyat korban Covid-19," katanya.

Aksi blusukan Risma setelah menjadi Mensos mendapat sorotan publik. Saat itu, Risma langsung meninjau kondisi tempat tinggal warga di wilayah sekitar kantor Kementerian Sosial, Kelurahan Pegangsaan, Jakarta Pusat. Salah satu yang ia kunjungi adalah kolong jembatan Pegangsaan.

Aksi blusukan Risma tak berhenti sampai di situ, ia beberapa kali kerap melakukan blusukan dan mengajak para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) agar mau dipindahkan ke panti rehabilitasi sosial.

Terbaru, pada Senin (4/1), dalam blusukannya ke wilayah Thamrin, Jakarta Pusat, Risma menemukan gelandangan yang langsung diajak ke rumah penampungan.

Meski begitu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria mengungkapkan tidak terganggu dengan aksi blusukan Risma di Jakarta.

Riza bahkan mengapresiasi langkah Risma blusukan dan menemukan sejumlah tunawisma. Ia mengakui, permasalahan tunawisma di Jakarta memang menjadi pekerjaan rumah Kementerian Sosial dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.



[blogger]

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.