Dibalik Kepulangan Rizieq, Prabowo Juga Minta Sejumlah Tokoh Pendukung Dibebaskan

 

Habib Rizieq Shihab (CNN Indonesia)
INFONUSANTARA.NET -- Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto meminta kepada pemerintah membebaskan sejumlah tokoh pendukung yang ditahan karena terjerat kasus hukum sebagai syarat rekonsiliasi usai Pilpres 2019, selain mengajukan pemulangan Imam Besar FPI, Rizieq Shihab.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani melalui akun Instagram Fraksi Gerindra, Jumat (13/11).

"Tak hanya pemulangan Rizieq Shihab, Prabowo juga meminta pemerintah membebaskan sejumlah tokoh pendukung yang ditangkap karena terjerat kasus hukum," demikian keterangan seperti dilansir dari CNNIndonesia.com.

Ketika Pilpres 2019 lalu, sejumlah tokoh pendukung Prabowo diketahui ditetapkan sebagai tersangka dalam sejumlah kasus berbeda. Mereka antara lain mantan Danjen Kopassus Mayjen (Purn) Soenarko, mantan Kepala Staf Kostrad Kivlan Zen, mantan Kapolda Sofyan Jacob.

Kemudian Bachtiar Nasir yang ditetapkan sebagai pencucian uang dan Eggi Sudjana yang dijerat tersangka makar.

Kasus-kasus hukum para tokoh tersebut tetap berjalan hingga hari ini, meskipun tak terdengar lagi. Kivlan Zen telah dibawa ke pengadilan. Pensiunan jenderal bintang dua itu didakwa atas kepemilikan senjata api (senpi) ilegal dan peluru tajam.

Sementara kasus Soenarko sudah dilimpahkan Polri ke Kejaksaan. Sedangkan kasus yang menjerat Sofyan Jacob, Bachtiar Nasir, hingga Eggi Sudjana belum jelas kelanjutannya. Mereka juga sudah ditangguhkan penahanannya.

Sebelumnya, Muzani menyebut Prabowo memiliki peran atas kepulangan Rizieq ke Indonesia. Ia menyatakan kembalinya Rizieq yang sejak 2017 berada di Arab Saudi itu merupakan salah satu syarat dari rekonsiliasi pasca-Pilpres 2019.

"Ya keseluruhan (pemulangan Rizieq Shihab), bukan hanya itu. Tapi keseluruhan bukan hanya itu. Kemarin kan banyak ditahan ratusan orang. Lagi diproses-proses. Ya segala macamlah ya," ujar Muzani.

Muzani mengatakan pertemuan antara Prabowo dan Jokowi yang menjadi langkah awal rekonsiliasi juga harus dilihat sebagai proses islah atau perdamaian. Proses islah, kata Muzani, tak dapat terjadi jika masih terdapat dendam di tengah masyarakat.

Ia pun mengingatkan agar proses rekonsiliasi tak menjadi sekadar wacana dan dagangan politik.

"Rekonsiliasi tidak mungkin terjadi kalau kemudian suasana dan pikiran itu juga terjadi. Suasana itu harus diredakan, harus dikendurkan, sehingga islah itu menjadi sesuatu yang kuat," kata Muzani.

Sebelumnya, Rizieq mengatakan pihaknya siap melakukan rekonsiliasi dengan pemerintah. Rizieq pun mendesak dibukanya pintu dialog untuk membicarakan rencana rekonsiliasi tersebut.

"Mana mungkin rekonsiliasi bisa digelar kalau pintu dialog tidak dibuka. Buka dulu pintu dialognya, baru bisa rekonsiliasi. Tak ada rekonsiliasi tanpa dialog, dialog itu penting," kata Rizieq dikutip dari video di kanal YouTube FrontTV, Rabu (11/11).

Rizieq mengaku sudah menawarkan dialog dengan pemerintah ketika menggelar tabligh akbar sebelum Pilkada DKI Jakarta 2017. Menurutnya, saat itu pihaknya siap melakukan dialog kapanpun kalau pemerintah bersedia duduk dengan para habaib dan ulama.

Pentolan FPI itu sudah menetap tiga tahun lebih di Arab Saudi. Rizieq akhirnya bisa kembali ke Indonesia setelah proses panjang pada 10 November lalu. Saat di Arab, Rizieq tetap menggalang massa di Pilpres 2019.

Ia ikut serta merancang Ijtimak Ulama yang memberikan dukungan kepada pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sementara, Prabowo juga pernah berjanji akan menjemput Rizieq pulang jika terpilih sebagai presiden. Namun, Prabowo gagal menjadi presiden dan kini menjabat sebagai menteri pertahanan.


[blogger]

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.