Presiden Prancis Tutup Masjid terkait Pemenggalan Guru

 

Presiden Prancis Emmanuel Macron. (AP/Thibault Camus)

INFONUSANTARA.NET -- Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut kelompok Islam militan terlibat pemenggalan guru yang menunjukkan karikatur Nabi Muhammad.

https://advertnative.com/

Melansir Associated Press, Macron berkata bahwa kelompok tersebut telah diperintahkan untuk dibubarkan, masjid tempat mereka berkumpul juga akan ditutup.

Masjid di pinggiran timur laut Paris, Pantin, ditutup selama enam bulan mulai Rabu (21/10) malam waktu setempat. Sebuah tanda yang dipasang oleh otoritas setempat di pintu masuk menyatakan masjid itu ditutup selama enam bulan.

Samuel Paty dibunuh oleh seorang pengungsi Chechnya kelahiran Moskow berusia 18 tahun.

Investigasi lebih lanjut terkait perisitiwa itu kini tengah dilakukan, meski polisi sudah menembak mati sang tersangka. Pembunuhnya telah diidentifikasi oleh pihak berwenang sebagai Abdoullakh Anzorov.

Pejabat pengadilan pada Rabu (21/10) pagi waktu setempat mengatakan bahwa ada tujuh orang yang ditahan dalam penyelidikan pembunuhan mengerikan itu.

Termasuk dua anak di bawah umur. Mereka harus menghadap hakim investigasi untuk dakwaan awal.

Ketujuh orang itu di antara 16 orang, termasuk lima remaja, awalnya ditahan untuk diinterogasi. Sembilan orang lain dibebaskan.

Penyelidik saat ini tengah mempelajari bagaimana pembunuh, yang tinggal di kota Evreux, Normandia, mengatur pertemuannya dengan Paty.

Berbicara usai pertemuan dengan pejabat regional yang bekerja untuk melawan kelompok Islam radikal, Macron mengatakan asosiasi dan individu lain yang diketahui terlibat atas peristiwa pemenggalan akan ikut ditutup.

Pemenggalan yang terjadi pekan lalu itu telah memicu kecaman dari ribuan warga Prancis. 

Mereka berkumpul dalam hujan gerimis untuk menghormati Samuel Paty. Guru pelajaran sejarah dan Geografi, itu dipenggal Jumat pekan lalu dalam perjalanan pulang dari sekolah di Conflans-Sainte-Honorine, Paris.

Macron menegaskan bahwa dia menginginkan "hasil nyata" untuk memerangi ideologi yang menghancurkan.

Pada pertemuan Kabinet hari Rabu, Macron mengatakan satu kelompok yang disebut Kolektif Cheikh Yassine akan diperintahkan dibubarkan.

Macron telah meminta tindakan cepat dan konkret dalam kasus ini. Sang Presiden mengobarkan perang terhadap apa yang dia sebut separatisme.

Sumber: CNN Indonesia

[blogger]

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.