Dampak kekeringan air pada masyarakat 
Infonusantara.net - Berdasarkan pantauan BMKG hingga awal Agustus 2019, beberapa wilayah sudah mengalami kekeringan level ekstrim dimana tercatat ada daerah yang tidak turun hujan lebih dari 90 hari. Kondisi ini memiliki dampak lanjutan terhadap kekeringan pertanian dan kekurangan air bersih masyarakat.

Merespon kondisi ini, ACT akan mendistribusikan 2,1 juta liter air bersih per hari di 28 cabang kantor ACT dengan total 500.000 penerima manfaat per hari. Sedangkan, untuk 4 bulan terakhir ini ACT telah memproses kurang lebih 1.400 sumur wakaf di seluruh Indonesia. Tahap awal penanganan kekeringan ACT pun akan menyuplai kebutuhan air melalui mobile water tank dengan total 60 juta liter/ bulan.

Distribusi air bersih dari ACT di salah satu wilayah yang tertimpa kekeringan 
Air bersih yang diberikan umumnya digunakan masyarakat untuk kebutuhan primer, yakni minum dan memasak. Selanjutnya, ACT Jatim terus berkomitmen untuk mendistribusikan air bersih ke seluruh penjuru Jatim. Misalnya saja, Pasuruan, Malang, Bangkalan, Jember, dan beberapa daerah lainnya, misal Yogyakarta.

Dipo Hadi selaku Kepala Program ACT Jatim mengatakan, satu juta liter air bersih telah disalurkan ke beberapa daerah kekeringan di Jawa Timur. “Diperlukan sinergi antar pengampu kebijakan untuk mengatasi masalah kekeringan yang hampir setiap tahun ada. Semakin banyak kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam menangani bencana kekeringan ini, maka akan semakin cepat penyelesaiannya. Dan tentu saja dapat meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak bencana," terang Dipo.

Di sisi lain, Winarno, Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) di Yogyakarta menambahkan bahwa pengeboran sumur yang cukup dalam memungkinkan air dapat terus keluar. “Sumur ini sangat bermanfaat bagi warga sekitar, terlebih saat kemarau seperti sekarang ini,” ungkap Winarno.

Dari penampungan air Sumur Wakaf di Yogyakarta, selain menyediakan air bagi jemaah mushola, warga sekitar musala Dusun Karangmojo, Desa Grogol, Kecamatan Paliyan juga memanfaatkan air dari Sumur Wakaf. Para warga mengalirkan air menggunakan pipa-pipa yang mencapai puluhan hingga ratusan meter dari sumber air di Sumur Wakaf hingga ke kamar mandi di rumah mereka masing-masing.

Karmujiyanto, salah satu warga dusun yang menikmati air Sumur Wakaf mengatakan, “Di Gunungkidul ini sumber air sangat susah dan dalam. Sumber air kemungkinan ada di sungai bawah tanah yang posisinya sangat dalam. Untuk membuat sumur yang cukup dalam perlu biaya yang besar juga, warga di sini belum ada yang mampu untuk itu,” jelas Karmujiyanto.

Kharis Pradana dari ACT DI Yogyakarta, mengatakan, desa-desa di Gunungkidul tiap harinya akan mendapatkan kiriman air bersih dari ACT. Di Gunungkidul, ACT akan memasok 16-20 ribu liter bagi warga terdampak kekeringan. “Lima hari dalam sepekan, ACT akan rutin mengirimkan air bersih. Setiap harinya hingga 20 ribu liter bisa kami kirimkan. Ketersediaan armada sendiri dari ACT DI Yogyakarta memudahkan pendistribusian air bersih ini,” jelas Kharis.

Aan Saputra selaku staf program ACT Sumatera Barat mengatakan, “Walaupun di daerah Sumatera Barat belum terdampak adanya kekeringan yang sangat vital, kita dari ACT Sumatera Barat terus mensuport saudara-saudara kita yang terkena dampak dari kekeringan ini dengan cara megajak para dermawan untuk berpartisipasi dalam mengatasi bencana kekeringan di Indoesia ini. Untuk Sumatera Barat sendiri, kita juga perlu mewaspadai akan Kekeringan ini karena dalam masa bulan Agustus ini merupakan puncak kemarau.

Hingga saat ini, ACT mengajak semua masyarakat untuk bahu-membahu mengirimkan bantuannya melalui aksi-aksi nyata untuk saudara-saudara di bit.ly/DermawanPadangAtasiKekeringan atau bisa melalui transfer via rkening BNI Syariah 8660 2910 1908 0082, Mandiri 127 000 77 21242, BRI 0382 01 000 769 305. Mari kita atasi kekeringan yang mematikan ini dengan menjadi Dermawan. Insya Allah, ini bukti kita peduli tidak hanya untuk warga Indonesia namun juga dunia. (rls)
#KekeringanMematikan.
 
Top