Fhoto Ilustrasi

Oleh : Agustinus Aris Alumnus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Apakah kita sudah memiliki sistem pendidikan seperti yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945? Bila sudah, maka kita bisa berharap akan masa depan yang cerah. Bila belum, maka kita tidak akan pernah menjadi negara yang demokratis dan penduduk negeri ini akan terus dalam situasi pendidikan yang miskin, tidak dewasa, dan tertinggal dengan perkembangan negara-negara lainnya.

Situasi ini harusnya mendapat perhatian serius dan menjadikan 200 juta penduduk mengambil sesuatu tindakan sebelum mereka gila dengan situasi sekarang, YB. Mangunwijaya.

Situasi kehidupan selama pandemi covid 19 tentu tidak bisa lagi kembali seperti semula. Semua dimulai dari awal. Semula pekerjaan dilakukan dari rumah, bergantung pada teknologi digital, maka sistem yang akan datang perlu dipikirkan kembali seperti apa dan bagaimana. Digitalisasi selama pandemi tentu akan mempengaruhi sistem kerja kita kini dan yang akan datang.

Bahkan setelah bumi ini benar-benar pulih kembali sekalipun dari serangan Covid 19 teknologi akan menjadi kebutuhan kita.

Pertanyaan reflektif pada pembuka tulisan ini, Romo Mangun paham betul apa yang dirasakan masayarakat Indonesia pada masanya dan pertanyaan tersebut sangat relevan apa yang sedang terjadi sekarang ini terhadap sistem pendidikan kita. Sudahkah sistem pendidikan kita melakukan transformasi?

Sebelum musim hujan harus memperbaiki atap rumah yang sudah retak. Pepatah kuno tersebut menyingkapi pesan moral kesiapan kita dalam menghadapi dalam segala situasi dan kondisi. Jika saja sistem pendidikan kita dipersiapkan dengan sedemikian rupa sebelum wabah meraja lela kita tidak akan kewalahan menerapkan pendidikan yang berbasis teknologi.

Penerapan model pembelajaran jarak jauh menjadi buah simalakama bagi pemerintah. Di satu sisi pelaksanaan model pembelajaran jarak jauh merupakan aturan protokol kesehatan yang harus dilaksanakan bagi seluruh masyarakat. Mengingat dan menimbang pandemi Covid 19 belum kunjung redah juga.

Di sisi lain, ketersediaan infrastruktur, mulai dari bangunan, fasilitas dan akses internet yang belum merata di seluruh penjuru nusantara. Literasi digital menjadi kebutuhan wajib dipahami oleh guru.
Guru mempunyai peran sentral dalam menunjukan nilai-nilai tingkah laku yang sesuai dengan praktik pembelajaran yang ideal.

Guru diharapkan mampu melakukan kolaboratif learning. Mewujudkan merdeka belajar bagi siswa. Model pembelajaran yang meningkatkan kasmaran belajar bagi siswa. Model PJJ harus bermakna bagi siswa, fokus pada kecakapan siswa. Meningkatkan kemadirian belajar atau swaajar (self teaching).

Pembelajaran yang berkualitas merupakan dambaan bagi setiap orang. Akan tetapi situasi di lapangan tidak sesuai espektasi di atas meja. Sejumlah persoalan masih dapat ditemui di antaranya adalah pembangunan pendidikan yang belum merata.

Meskipun sudah 75 tahun Indonesia merdeka masih juga mengalami kekurangan tenaga guru. Masih tampak dengan kasat mata bahwa kualifikasi pendidikan di daerah pelosok dengan daerah lain yang lebih maju masih tertinggal.

Selain itu meskipun sudah banyak para sarjana-sarjana muda, masih kekurangan tenaga guru yang berkualitas dan memiliki komitmen untuk mengajar. Komitmen diabaikan, inteletualitas anak dikorbankan dan yang terakhir, buruknya fasislitas yang dimiliki oleh sekolah.

Di zaman teknoligi digital yang hampir semua kehidupan kita bergantung pada tekonologi tetapi di daerah-daerah tertentu belum ada akses, listrik, transportasi dan informasi (telekomunikasi dan internet) yang merata serta tingginya angka putus sekolah. Selalu ada perkecualian dalam segala hal termasuk dalam pelaksanaan PJJ bagi daerah-daerah yang fasilitasnya sangat tidak mendukung dalam situasi pandemi covid 19 ini. Akan tetapi bukan tidak mungkin transformasi pendidikan dapat dilakukan.

Saat ini dunia pendidikan Indonesia sedang giat mengembangkan sistem pendidikan yang dapat merespon perkembangan zaman. Substansinya adalah pendidikan yang berfokus pada perkembangan sosial, pendidikan dan ekonomi. Maka, peran guru bukan hanya melaksanakan transfer ilmu pengetahuan, tetapi sekaligus pendidik nilai karakter.