Rumah Kelahiran Bagindo Aziz Chan Pahlawan Nasional Asal Padang Sudah  Rancak.

Rumah Kelahiran Bagindo Aziz Chan Pahlawan Nasional Asal Padang di Alanglaweh Koto Kelurahan Alanglaweh Kecamatan Padang Selatan 

INFONUSANTARA, PADANG -- Siapa yang tidak kenal dengan sosok pemimpin muda yang revolusioner, dengan sikapnya yang pemberani, konsisten dalam bertindak, berpendirian teguh, dan tidak pernah gentar menghadapi musuh, ya dia adalah Bagindo Aziz Chan, pahlawan nasional asal Padang.

Saat ini kita bisa melihat rumah kelahiran Bagindo Aziz Chan Walikota Padang kedua ini yang berada di Jalan Alanglaweh Koto RT 19 RW 5 Kelurahan Alanglaweh, Kecamatan Padang Selatan itu sudah selesai dilakukan renovasi.


Setiap pengunjung yang ingin singgah  ke Jalan Alanglaweh Koto RT 19 RW 5 di rumah kelahiran Bagindo Aziz Chan, pengunjung akan disambut oleh  sebuah rumah panggung kayu dengan kombinasi cat berwarna biru langit dan biru laut yang bersih.

Namun bagi pengunjung yang datang ke rumah kelahiran pahlawan nasional asal Padang ini belum bisa melihat barang - barang peninggalan beliau ( Bagindo Aziz Chan, red). Pada rumah ini terdapat ruang kosong dan empat bilik. Bagian depan dan belakang terdapat beranda dan semuanya masih kosong melompong.

"Belum ada barang peninggalan beliau di dalam. Rumah ini baru direnovasi. Mau masuk pun tidak ada yang bisa dilihat,” ungkap penjaga rumah, Burin(54) saat ditemui media ini di kediamannya, Jumat (2/1).
Sisi Belakang Rumah Kelahiran Bagindo Aziz Chan 
Rumah Wali Kota Padang kedua tersebut rencananya akan dikembalikan ke bentuk semula. Karena itu bentuk rumah panggung kayu dipertahankan. Rumah kelahiran Bagindo Aziz Chan ini direnovasi Lebaran tahun lalu. Ukurannya masih sama sekitar 10x20 meter persegi. Terdapat ruang kosong dan empat bilik. Bagian depan dan belakang terdapat beranda Bagindo Aziz Chan bersantai. Untuk sementara pagar besi rumah masih sering tertutup.

"Sebelum direnovasi rumah ini dikontrakan oleh keturunan beliau dan kemudian diambil alih oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (DPRKP) serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Padang." Tujuan pengambil alihan untuk mengenang perjuangan Bagindo Aziz Chan di masa mendatang. Sosok Bagindo Aziz Chan akan terasa lebih dekat dengan melihat langsung benda-benda peninggalannya,"kata Burin.

Gapura Mesum Bagindo Aziz Chan di Jalan Alanglaweh Koto. 
Sementara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Padang, Medi Iswandi membenarkan renovasi rumah bertujuan mengembalikan bentuk semula rumah kelahiran Bagindo Aziz Chan. Di 2018 ini kita dapat anggaran untuk mencari dan melengkapi segala furniture yang di gunakan dirumah kelahiran Bagindo Aziz Chan itu.

"Namun pihaknya membutuhkan waktu yang cukup lama, karena tidak semua saksi hidup mengetahui persis bentuk asli rumah kelahiran Bagindo Aziz Chan ini beserta semua furniture nya, baik itu tempat tidur, meja, kursi dan lain sebagainya. Anak beliau pun yang masih ada saat ini juga tidak tahu persis tentang hal ini, karena rumah tersebut sudah lama kosong," sebut Medi dari Pekanbaru yang lagi mengikuti kegiatan Apeksi, ketika dihubungi media ini melalui selulernya.

Sulitnya informasi tentang bentuk asli rumah, benda-benda peninggalan yang ada di dalam rumah menyulitkan kita untuk membuat replikanya. Makanya riset-riset terus dilakukan. Namun  foto-foto sudah dikirimkan pihak keluarga. Kami masih menunggu foto lainnya dan mencari informasi tentang benda-benda lainnya.

"Untuk itu, kita dari dinas sendiri belum  mau membuka rumah kelahiran Bagindo Aziz Chan ini karena isi dalam rumah ini belum lengkap. Kita tidak mau terjadi komplen nantinya dengan apa- apa replika yang kita hadirkan nanti," ungkap Medi Iswandi.

"Sepintas cerita Bagindo Aziz Chan mempertahankan kemerdekaan".

Bagindo Aziz Chan Menjadi seorang Wali Kota Padang di usia sangat muda(36), tidak membuatnya gentar untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sosok pemimpin yang revolusioner, dengan sikapnya yang pemberani, konsisten dalam bertindak, berpendirian teguh, dan tidak pernah gentar menghadapi musuh menjadikan Bagindo Aziz Chan sebagai seorang tokoh muda yang patut diteladani. Perjuangan dan pengorbanannya akan selalu menjadi inspirasi dan semangat juang bangsa ini terutama bagi generasi muda di Kota Padang.

Tepatnya di tahun 1947, Belanda yang membonceng pasukan Sekutu justru menggelar operasi militer yang dikenal dengan Agresi Militer Belanda. Hal ini tentunya melanggar Perjanjian Linggarjati untuk mengadakan gencatan senjata yang sudah disepakati kedua negara. Belanda mulai merencanakan untuk menyerang Pulau Jawa dan Sumatera pada 21 Juli 1947. Salah satunya adalah Kota Padang ( Ibu Kota Sumatera Barat) yang memiliki posisi strategis dan tentunya akan menguntungkan pihak Belanda jika berhasil menguasainya.

Meski pihak Belanda telah membujuk sang wali kota agar mau bekerja sama, justru Bagindo Aziz Chan menyatakan dengan tegas bahwa ia tidak akan pernah melepaskan Kota Padang yang sedang dipimpinnya. Akibat dianggap sebagai ancaman yang serius, akhirnya Bagindo Aziz Chan gugur setelah terjadi kontak senjata dengan Belanda pada tahun 1947. (In7).

 
Top