Suasana Jelang Imlek ke - 2569 di Jalan Kelenteng Kota Padang 
INFONUSANTARA, Padang -- Ratusan Lampion atau tenglong berwarna merah terlihat hiasi suasana pecinan Pondok jelang perayaan tahun baru Imlek atau yang disebut Sin Cia oleh masyarakat Tionghoa yang berbahasa Hokkian dan Tiu chiu. Di tahun 2018 ini merupakan perayaan Tahun Baru Imlek (Sin Cia) ke-2569 yang jatuh pada hari Jum'at 16 Februari 2018 mendatang.

Lampion-Lampion tersebut terpasang diantaranya di Jalan Niaga dan Jalan Kelenteng. Selain di rumah-rumah warga, sebanyak 300 lampion atau tenglong berwarna merah ini juga sudah terpasang di Kelenteng See Hin Kiong, Jalan Kelenteng No.312, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatra Barat.

"Ketua Panitia Pelaksana, Iswanto Kwara menyampaikan perayaan tahun baru Imlek ke - 2559 Tahun 2018 ini jatuh pada tanggal 16 Februari nanti. Namun sebelumnya, pada Rabu (31/1) ini terlebih dahulu dilaksanakan pembakaran Hio atau Dupa, selanjutnya pukul 18.30 WIB menyalakan sebanyak 300 lampion serta menampilkan atraksi barongsai dari himpunan keluarga Lim, di lokasi halaman Kelenteng See Hin Kiong, " katanya, Selasa malam (30/1) pada media ini.

Lampion atau tenglong berarti terang, dan perlu ritual dengan atraksi barongsai sebelum menyalakannya agar mendapatkan kebaikan. Kegiatan tersebut merupakan tradisi tiap tahun dalam menyambut tahun baru Imlek. 

"Tradisi ini kami adakan malam hari agar halayat ramai mengetahui kegiatan ini. Tradisi menyambut tahun baru dengan menyalakan lampion dan penampilan barongsai tersebut juga untuk memperlihatkan dan menunjang unsur pariwisata di kawasan pecinan Padang. Karena kita di Padang ini merupakan multi etnis dan salah satu nya adalah tradisi dari masyarakat Tionghoa yang ada di Padang ini, " ujar Iswanto Kwara yang juga anggota DPRD Kota Padang ini.

Juga dikatakan, ritual yang diadakan tersebut memiliki tanda simbolis tersendiri dan sangat bermakna untuk mendapatkan kebaikan pada tahun selanjutnya. Ritual barongsai sebelum menyalakan lampion itu melambangkan pengharapan agar rezeki di tahun baru terus berkembang.

"Sembilan buah jeruk saat ritual berarti emas dari Tuhan, selada melambangkan rezeki dan jeruk bali berarti harta. Di akhir ritual, jeruk bali dikembangkan yang maknanya agar harta dan rezeki terus berkembang," jelasnya.

Selanjutnya pihak Kelenteng juga akan mempersiapkan rangkaian acara lainnya. Pada perayaan Imlek nantinya akan ada banyak rangkaian acara, termasuk diadakannya pasar malam Imlek ( pasar murah,red) yang akan diselenggarakan mulai tanggal 8 hingga 12 Februari 2018, dengan menjual berbagai bahan kebutuhan pokok dan lain sebagainya yang diharapkan bisa bermanfaat membantu warga. 

"Selain itu kata Iswanto Kwara,  puncak perayaan Imlek ini adalah perayaan Cap Go Meh pada 2 Maret 2018 nanti. Dalam perayaan Cap Go Meh ini juga akan ada kegiatan tradisi arak - arakkan Kio dari HTT, Sipasan dari HTT, Kio Marga Lie, Kio Marga Tjoa dan Kwa(TjoaKwa), juga nanti ada Kio dari luar Sumatera yang akan turun, yakni Kio dari Semarang, Banten dan beberapa Kio dari luar perkumpulan, " ungkapnya.(In7)

 
Top