Ketua Komisi IV DPRD Padang, H.Maidestal Hari Mahesa Melepaskan Kepergian Habil Daud Anak Penderita Gizi Buruk di Rawat di RSUD Dr.Rasidin. 

INFONUSANTARA- Ketua Komisi IV DPRD Kota Padang, H.Maidestal Hari Mahesa sangat - sangat benar kita sayangkan sekali dan sesalkan disaat Kota Padang baru saja mendapatkan penghargaan Kota Layak Anak, bahkan masih banyak ternyata anak -anak kita, bahkan sampai ada jatuh korban seperti ini.

Hal ini terbukti dengan adanya ditemukan kasus gizi buruk yang diderita Habil Daud (7) anak pasangan dari Afrijon dan Mira Susanti dari Kelurahan Banuaran, Kecamatan Lubuk Begalung Kota Padang, yang baru saja berpulang kerahmatullah pagi ini, Minggu (28/1) sekitar pukul 10. 30 WIB di RSUD Dr.Rasidin.

H.Maidestal Hari Mahesa diwawancarai Wartawan TV Nasional. 
Ia menilai tidak ada perhatian dari pemerintah, karena penyampaian dari orang tua anak tersebut bahwasanya Walikota Padang belum ada datang untuk melihat Habil Daud ke rumah sakit." Padahal kasus anak menderita gizi buruk ini sudah diliput media bahkan sudah menjadi berita nasional, " kata Esa, Minggu ( 28/1) pada media ini.

Mungkin menurut Esa, saat ini Walikota sedang sibuk - sibuknya menghadiri undangan - undangan acara keramaian dan dia datang atau mungkin agenda yang sangat padat sehingga kasus ini tidak terperhatikan. "Artinya kita pertanyaan lagi maksud dan tujuan serta sampai sejauh mana sih tentang Kota Layak Anak tersebut, sementara masih banyak anak- anak kita yang belum terperhatikan, "katanya

Kejadian Ini akan menjadi bahan evaluasi, momentum pembelajaran bagi pemerintah dan kita semua sampai kemasyarakatnya. Pemko terutama Dinas Kesehatan akan kita evaluasi  dan dalam waktu dekat dinas terkait akan kita panggil sesegera mungkin, dimana sih salahannya. Kalau masalah anggaran sedikitpun kita tidak ada memotong anggaran.


Yang kita sayangkan pemerintah sekarang ini hanya melihat mempersolek mempercantik luar nya saja, ini salah satu contoh bukti di dalamnya kropos. Sangat disayangkan dan memiriskan sekali kondisi masyarakat ditelantarkan, sarana prasarana, pendidikan dasar, kesehatan yang kita temui." Kita juga akan evaluasi sampai ke tingkat posyandu, apakah SDM kader posyandu yang kurang, sarana prasarana yang kurang. Karena ujung tombak ini yang perlu kita perhatikan terlebih dahulu, "katanya.

Ketua Komisi IV ini juga mengatakan ada tiga anak lagi dengan kasus yang sama yang akan kita kunjungi, akan kita telusuri kelokasi, wilayahnya di Padang Timur dan Lubuk Begalung,  mungkin masih banyak lagi kasus gizi buruk yang belum kita ketahui.

Saya juga sangat sayangkan sekali sikap dari pihak RSUD ini, masa tidak ada satu pejabat yang berwenang di rumah sakit ini untuk dimintai keterangan." Alasannya hari Minggu libur , tidak ada alasan itu. Kalau tidak mampu untuk melayani masyarakat silahkan saja mundur pejabat RSUD ini, " tegas Esa.

Selain itu Esa juga mengatakan, apa gunanya ada agenda seperti sahur keliling, Jum'at keliling dan kegiatan keliling Walikota lainnya. Seharusnya kan bisa dicari informasi ditengah masyarakat dari kegiatan itu.

"Dan anehnya lagi ada juga informasi yang saya peroleh menyebutkan kalau orangtua anak ini sering ke dukun, ini fitnah namanya, serta segala biaya ditanggung oleh Baznas, tidak benar itu. Biaya itu ditanggung APBD, janganlah itu digunakan untuk pencitraan. Baznas waktu itu hanya mengantar ke RSUD dan tidak pernah datang lagi, " ungkap Ketua Komisi IV DPRD Padang ini.

Sementara orangtua dari almarhum Habil Daud mengatakan, bahwa dalam masa perawatan beberapa hari ini, kondisi anaknya yakni berat badannya sempat naik 1,1 kg dari 8 kg jadi 9,1 kg. Namun kondisi Habil meninggal dunia dia tidak tahu. Diketahui ketika petugas melalukan pemeriksaan pagi baru kami tahu.

"Ya kita selaku orangtua harus bagaimana lagi, mungkin ini yang terbaik untuk anak saya Habil, karena sakit yang dialami sudah dua tahun dialaminya. Namun karena kondisi ekonomi dan kami tidak punya BPJS, terpaksa dirawat dirumah saja, "ujarnya.

Sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan Padang, Feri Mulyani mengatakan Habil Daud derita gizi buruk akibat gangguan pertumbuhan atau Cerebral Palsy yang merupakan penyakit tumbuh kembang yang lebih mengarah pada gangguan tubuh, dimana anak menjadi tidak progresif dan cenderung kaku. Penyakit ini disebabkan karena adanya kerusakan pada sel-sel motorik, terutama pada susunan saraf pusat yang sedang berkembang.

Berdasarkan Data Dinkes Kota Padang selama tahun 2017 menemukan 61 kasus gizi buruk, dari 61 pasien 22 pasien berobah jadi gizi sedang, sedangkan 11 kasus gizi buruk dengan melakukan upaya monitoring dan 28 pasien sudah sembuh.

"Kasus gizi buruk murni hanya 5 persen selebihnya karena komplikasi penyakit. Dan upaya yang dilakukan Dinkes terhadap pasien gizi buruk antara lain dengan memberikan makanan tambahan khusus yang bisa didapatkan di puskesmas. Untuk itu kita mengingatkan kepada orang tua untuk lebih selektif menjaga buah hatinya dengan memberikan makanan sesuai dengan umur yang sudah dimasak, dan tidak memberikan makanan instan kepada anak, " ungkapnya (bai)




 
Top