Diskusi "Cak Imin di Mata Media Sumatera Barat

Dari diskusi bersama media itu, bisa diambil kesimpulan, bahwasanya Muhaimin Iskandar layak jadi pemimpin nasional.

INFONUSANTARA (Padang) 
Diskusi "Cak Imin di Mata Awak Media Sumatera Barat" berlangsung hangat, Minggu (1/10/2017) , di Amaris Hotel Padang, Sumatera Barat untuk membedah tentang sosok Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar yang akrab di panggil Cak Imin, sebagai alternatif bakal calon Wakil Presiden, Minggu,1 Oktober 2017

Dari diskusi bersama media itu, bisa diambil kesimpulan, bahwasanya Muhaimin Iskandar layak jadi pemimpin nasional.

Masing-masing wartawan dari berbagai media cetak, eletronik dan online menyampaikan pandangannya tentang sosok Cak Imin. Rata-rata mengaku tidak mengenal langsung Muhaimin, namun daei pengamatan di media bagaimana sepak terjangnya, dia layak diusung setidaknya menjadi Wakil Presiden periode mendatang.

Diskusi itu dipandu wartawan senior Sulaiman Tanjung bersama Ketua Forum Wartawan Parlemen (FWP) Padang Dasrul dan Ervin Hasibuan dari Posmetro Padang.

Ketua FWP Dasrul selaku moderator kegiatan, dalam penyampaiannya membeberkan perjalanan karir sosok Muhaimin Iskandar atau yang lebih akrab disapa Cak Imin selama berkiprah dalam dunia perpolitikan tanah air.

Dikatakannya, perjalanan politik Cak Imin memang dimulai dari nol. Sewaktu menjadi mahasiswa UGM yang juga menjadi anggota PMII, ia selalu gencar melawan otoritarianisme dan sentralisasi.

Dan perjuangan untuk menyuarakan kepentingan masyarakat ternyata tidak sampai disitu. Ia kemudian bersama kyai Nadhatul Ulama (NU) mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang pada saat itu masih berorientasi pada ukhuawah keagamaan, dengan kedudukan sebagai sekretaris umum partai.

Seiring waktu, perjalanan karir politiknya terus menanjak, dengan dipercaya Cak Imin sebagai ketua Umum PKB. Dan terakhir diera presiden SBY, ia dipercaya menduduki jabatan Menteri Tenaga Kerja. "Dimasa dia menjadi Menaker sistem outsourching dihapuskan," ujar Dasrul.

Kemudian di era kepemimpinan presiden Jokowi, Ia juga berhasil menempatkan empat orang kader PKB menduduki jabatan Menteri.

"Sesuai dengan diskusi yang bertemakan "Cak Imin di Mata Awak Media Sumbar" tentunya kita perlu melihat, apakah sosok dari Cak Imin ini, memang pantas dipercaya mengemban amanah menjadi bakal calon Wakil Presiden untuk periode berikutnya," ulasnya.

Menanggapi hal tersebut Debi Fernando, dari Koran Padang Ekspres mengakui, secara pribadi, ia memang belum mengenal sosok Cak Imin. Namun melihat dari perjalanan politiknya, dan kepemimpinannya dalam membesarkan partai, patut diapresiasi.

Terkait dengan pantas atau tidak pantasnya, Ia diberi amanah diusung calon Wakil Presiden, menurut Debi memang pantas. Namun perlu kerjasama dan dukungan dari semua pihak, bagaimana sosok dari Cak Imin ini dapat dikenal masyarakat luas.

Adrian Ascha dari Padang TV mengatakan, Cak Imin hanya baru dikenal luas di akar rumput Nahdliyin. Tapi Ascha melihat Cak Imin punya potensi untuk menjadi capres atau cawapres,  apalagi dia adalah ketum partai besar dengan massa yang jelas.

Menariknya diskusi ini,  kata Zamri Yahya dari BentengSumbar.com, seorang tokoh yang dibesarkan dari rahim Nahdlatul Ulama dibedah di basis Muhammadiyah. Pasalnya,  jarang-jarang hal itu dilakukan, sebab biasanya yang dibedah adalah tokoh Muhammadiyah.

"Cak Imin itu harus kita lihat pemikirannya. Seorang Cak Imin yang gigih memperjuangkan agar kebhinekaan itu harus dirawat. Kalau yang dijual Cak Imin sebagai tokoh politik yang lahir dari rahim NU, tentu tak laku di Sumbar," ujarnya.

Agib Noerman dari GoSumbar.com melihat sosok Cak Imin sebagai mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di era Presiden SBY. Ia menilai Cak Imin cukup gigih memperjuangkan hak-hak tenaga kerja. "Tapi bukan berarti tidak ada cacat. Namun kita harus mengakui juga kelebihannya," ungkapnya. (*)


 
Top